Akhir-akhir ini saya merasa kita terlalu sering terburu-buru dalam mencari makna sebuah peristiwa, sebelum berusaha memahami begaimana peristiwa itu terjadi.
Beberapa hari terakhir, Indonesia kembali dihadapkan pada aktivitas vulkanik. Pada Ahad, 6 Septermber 2026, empat gungung api, Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Semeru, tercata mengalami erupsi pada hari yang sama. Fenomena tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat, terutama netizen di sosial media. Bukan hanya karena erupsi terjadi di beberapa gunung dalam waktu yang berdekatan, tetapi juga karena munculnya beberapa tafsir di ruang digital yang menghubungkan fenomena alam tersebut dengan kondisi sosial dan politik di negeri ini.

Ada yang beranggapan bahwa erupsi sejumlah gunung dalam waktu yang hampir bersamaan ini merupakan tanda Bumi sedang murka. Ada pula yang mangaitkannya dengan keadaan pemerintah Indonesia, seolah-olah bumi Nusantara kita ini sedang memberikan respons terhadap apa yang dilakukan oleh para penguasa.
Tentu saja setiap orang memiliki hak untuk memberikan pandangan masing-masing. Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika sebuah dugaan diperlakukan sebagai kepastian.
Sebab, adanya empat gunung mengalami erupsi pada hari yang sama tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa erupsi tersebut merupakan bentuk kemurkaan alam terhadap pemerintah. Kesamaan waktu bukanlah bukti adanya hubungan sebab-akibat.
