Menyoal Mitos dan Nalar dalam Memahami Bencana

Para ahli kebencanaan juga menjelaskan bahwa erupsinya empat gunung tersebut tidak manunjukkan adanya satu jalur magma yang saling menghubungkan dan menyebabkan semuanya erupsi secara bersamaan. Masing-masing gunung mempunyai sistem vulkanik dan karekteristiknya masing-masing.

Kita sering kali melihat dua peristiwa terjadi secara bersamaan, lalu menganggap salah satunya sebagai penyebab bagi yang lain. Padahal seandainya berpikir secara logis, hubungan waktu saja tidak cukup untuk membuktikan adanya hubungan kausalitas. Kita membutuhkan pembuktian, penelitian, pengamatan, serta penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika setiap fenomena yang terjadi bersamaan langsung kita hubungkan dengan sebab tertentu, kita akan mudah terjebak dalam kesimpulan yang keliru. Persoalannya bukan lagi hanya percaya atau tidak percaya pada mitos, tetapi apa yang terjadi setelah mitos itu dipercaya.

Ketika erupsi dianggap sebagai tanda alam sedang murka, kita seolah telah menemukan jawabannya, jawaban dari mengapa gunung-gunung tersebut erupsi. Padahal, justru di situlah pertanyaan seharusnya dimulai. Mengapa gunung itu erupsi? Wilayah mana yang berisiko? Dan bagaimana kita mempersiapkan diri jika peristiwa serupa kembali terjadi?

Mitos membuat kita berhenti pada tafsir. Sedangkan, penalaran mendorong kita untuk mencari tahu. Dengan penelitian, kita dapat memahami aktivitas gunung, memetakan wilayah yang rawan, menyiapkan peringatan dini, menentukan jalur evakuasi, dan mengurangi risiko korban.

Tinggalkan Balasan