Bagi kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gus Dur serupa nabi. Begitu bunyi tulisan karya Malik Haramain dalam buku PMII di Simpang Jalan? Tak berlebihan kiranya seorang Gus Dur diibaratkan demikian. Gus Dur membuat semangat kritisisme PMII bangkit.
Di era 1980-an, Gus Dur yang mulai aktif menulis ihwal NU dari pelbagai sudut pandang. Misalnya, dari prespektif kebudayaan, sosial, dan politik. Tulisan-tulisan Gus Dur akhirnya merupakan poros awal tradisi kritis di kalangan PMII.

Di saat itu, kader-kader PMII mulai percaya diri untuk tidak stagnan pada kultur tradisional ala NU. Maklum saja, PMII yang terikat dengan NU secara kultural agaknya sempat terpengaruh dengan cara pikir tradisional NU. Mereka bahkan berani mempertanyakan persoalan fundamental yang ada dalam tubuh NU.
Fenomena tersebut jelas membuat kalangan kiai sepuh kala itu naik pitam dan menganggap PMII telah keluar dari pakem Islam tradisional NU. Namun, karena saat itu Gus Dur masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, kader PMII merasa mendapatkan payung perlindungan atas kecaman ulama sepuh NU.
