Pergulatan intens dengan pemikiran Gus Dur dan berbagai pemikiran yang mengusung corak Islam liberal membuat liberalitas dan radikalitas PMII semakin menjadi-jadi. Pada awal dekade 1990-an muncul tokoh-tokoh, misalnya Ulil Abhsar Abdalla, Mun’iem DZ, dan Ahmad Baso. Referensi bacaan kader PMII di masa itu sungguh sangat “mengerikan” sekali. Mulai dari pemikiran Islam Kiri menganut cara pikir Hassan Hanafi, kritik nalar Islam ala Mohammed Arkoun, teologi pembebasannya Ashgar Ali Enginer, kritik Ulum Al-Quran gaya Nasr Hamid Abu Zaid, hingga post-tradisionalis ala Muhammad Abied Al-Jabiri.
Ke manakah pemikiran Gus Dur di kalangan PMII kini? Atau tepatnya ke mana kader PMII dalam pikiran-pikiran Gus Dur?

Tak cukup kiranya hanya dengan mengetahui sedikit dari biografi seorang Gus Dur menjadikan kader PMII mampu menyelami samudera pemikiran Gus Dur. Kesampingkan dahulu persoalan pemikiran Islam di PMII. Tokoh sebesar Gus Dur saja saat ini agaknya mulai asing di benak kader PMII. Padahal, sumbangsih Gus Dur terhadap tradisi kritik PMII sangatlah besar dan dahsyat sekali. Ini merupakan tamparan keras untuk kader PMII saat ini.
Penulis tidak sedang membicarakan minat serta bakat dan kecenderungan kader PMII saat ini. Dekadensi daya kritis dan argumentatif yang ada saat ini menjadi bahan evaluasi yang sangat besar bagi PMII. Tak hanya mandek pada materi Aswaja saja. Kader PMII seyogyanya harus kembali ke nenek moyang ideologinya, yakni pemikiran Gus Dur. Toh, dengan begitu cara pandang terhadap ideologi Aswajanya justru akan lebih menguat.
