Menyusuri Rumah-rumah Pesantren di Cirebon 

Ketika menyusuri lorong-lorong kecil dan gang-gang sempit untuk menuju makam, kami dibuat takjub. Di antara rumah-rumah yang dibelah lorong atau gang-gang sempit itu, kami menemukan pemandangan unik: terpajang plang-plang nama-nama pesantren yang berbeda-beda. Misalnya, ada bangunan agak besar terpajang papan “Ponpes Al-Firdaus”. Di belakangnya persis ada rumah bertingkat dengan papan nama “Ponpes Daru Ilyas”. Lebih ke dalam lagi, misalnya, kita menemukan papan nama “Pondok Pesantren Darul Hijroh” dan banyak lagi.

Makin ke dalam, bangunan rumahnya makin kecil dan bervariasi, berdempetan, berimpitan, berdesakan dengan papan nama pesantren yang berlain-lainan. Setelah sekitar 15 menit menyusuri lorong-lorong dan gang-gang sempit di antara rumah-rumah yang berimpitan itu, kami tiba di pekarangan yang luas, yang di dalamnya terdapat makam masyayikh Buntet. Usai ziarah, kami kembali melalui rute yang sama. Tentu, lebih banyak lorong dan gang sempit yang tidak sempat kami lalui.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di antara lorong-lorong kecil dan gang-gang sempit itu terdata sedikitnya ada 75 pesantren! Pada rumah-rumah yang difungsikan sebagai pesantren itu, bermukim para santri yang jumlahnya bervariasi. Ada yang belasan. Ada yang puluhan. Ada pula yang ratusan. Jumlah seluruh santri di Buntet Pesantren ini diperkirakan mencapai 10 ribu jiwa, sekitar 2000 orang di antaranya merupakan santri kalong. Jika dirata-rata, per pesantren dimukimi sekitar 130 santri.

Yang menarik, meskipun namanya berbeda-beda dengan pengasuh dan para ustaz yang berlainan, 75 pesantren tersebut bernaung di bawah satu yayasan, yaitu Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Pondok Buntet Pesantren. Ribuan santri dari pesantren yang berbeda-beda nama tersebut belajar di sekolah-sekolah yang dikelola yayasan yang sama. Dan para pengasuh pesantren-pesantren tersebut memang masih merupakan keluarga besar Buntet, yang berarti masih keturunan dari Kiai Muqoyyim.

Dengan “pertumbuhan organik” seperti itu, Pondok Buntet Pesantren menjadi salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia saat ini. Bukan hanya nama pesantrennya yang melegenda, tapi juga nama desanya. Sayangnya, ketika kami berkunjung, para santri sedang libur sehingga kami tak sempurna merasakan getaran jiwa desa pesantren tersebut.

Babakan Ciwaringin

Dari Buntet kami berpindah ke arah barat untuk berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Setelah itu, barulah kami mengunjungi desa pesantren lainnya, yang tak kalah melegenda, Babakan Ciwaringin.

Sesungguhnya, Babakan Ciwaringin tidak ada dalam agenda awal kami. Itu bermula ketika masih berada di Gedongan, kami menerima telepon dari KH Acep Zamzam Noor, sastrawan sohor dari Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Kang Acep, panggilan akrabnya, tiba-tiba menyarankan kami mampir ke Babakan disertai bisikan: di sana ada makam tertua penyebar Islam. Kami pun mengikuti “titah” Kang Acep.

Menjelang maghrib kami tiba di Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin. Menelusuri jalan-jalan kecil, kami agak kesulitan menemukan Pondok Pesantren As-Sholihah seperti yang dirujuk Kang Acep. Kami tersasar dan justru parkir di depan Pesantren As-Sholihin. Setelah bertanya kepada seorang santriwati di pesantren lain di seberang pesantren As-Sholihin, kami berjalan menyusuri gang sempit untuk menemukan alamat Pesantren As-Sholihah. Jaraknya kurang lebih 200 meter dari tempat kami parkir.

Tinggalkan Balasan