Menyusuri Rumah-rumah Pesantren di Cirebon 

Di Pesantren As-Sholihah, kami diterima pengasuhnya, Kiai Ahmad Baequni. Dari kiai yang pernah menerbitkan sebuah novel inilah kami menerima banyak informasi tentang sejarah dan perkembangan pesantren di Desa Babakan.

Keberadaan pesantren di Babakan terbilang lebih awal dibandingkan dengan di Buntet. Perintis pertama pengembangan pesantren di desa ini adalah KH Hasanudin bin Abdul Latif atau dikenal dengan panggilan Ki Jatira. Pesantren Babakan Ciwaringin dibangun mulai 1705.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak mudah bagi Ki Jatira untuk mengembangkan pesantren di Babakan karena memperoleh penentangan dari Belanda. Namun, keteguhan Ki Jatira tak surut, sehingga pesantren yang dirintisnya terus berkembang hingga kini.

Yang menarik, perkembangan pesantren di Babakan mirip dengan yang terjadi di Buntet. Rumah-rumah warga difungsikan sebagai pesantren. Karena itu, letak pesantren yang berbeda-beda di desa ini juga berimpitan, bersisihan, bahkan berdesakan. Namanya juga mirip-mirip, seperti pada kasus “Pesantren As-Sholihin” dan “Pesantren As-Sholihah” yang letaknya pun hanya dipisahkan satu pesantren lain lagi.

Menurut penuturan Kiai Baequni, saat ini di Desa Babakan terdapat sedikitnya 85 pesantren dengan nama yang berbeda-beda, dengan pengasuh yang berbeda-beda pula. Namun semua pendiri atau pengasuh pesantren di desa ini masih sesaudara, yang merupakan keturunan dari Ki Jatira dari berbagai generasi. Jumlah santri secara keseluruhan mencapai lebih dari 10 ribu orang.

“Santrinya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dulu ada yang dari Timor Timur, sebelum merdeka menjadi Timor Leste,” ujar Kiai Baequni.

Namun, berbeda dengan di Buntet, pesantren-pesantren di Babakan bernaung di bawah yayasan yang berbeda-beda. Juga, yang membedakan antara satu pesantren dengan lainnya adalah kekhususannya. Ada yang khusus pesantren salaf (tradisional), ada yang khalaf (modern), ada pula perpaduan dari keduanya. Termasuk, kekhususan di bidang keilmuan atau fan.

Meskipun begitu, seluruh pesantren di Babakan masih dalam satu tarikan napas karena masih dari keturunan yang sama. Pertumbuhan organik Babakan sebagai desa pesantren seperti ini menjadikannya sangat unik, khas, dan melegenda. Saat ini, Babakan menjadi salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia.

Foto-foto: mukhlisin dan kompas.

Tinggalkan Balasan