Perpustakaan di masjid dapat direalisasikan dengan baik ketika ada sinergi antara semua elemen masyarakat. Untuk perwujudannya, skema gagasan revitalisasi masjid bisa disampaikan terlebih dahulu kepada pemerintah setempat (kepala desa atau lainnya). Setelah ditinjau dan mendapat persetujuan, pemimpin tersebut dapat mengkoordinasi seluruh warga untuk kerja bakti bersama membangun perpustakaan di masjid. Kaum adam bisa diterjunkan ke lapangan, sedangkan kaum hawa menyiapkan hidangan.
Pelaku kerja bakti juga dapat melibatkan kalangan non-muslim di tempat tersebut. Ini bukanlah hal tabu, justru sebagai perekat sosial serta menghindarkan dari sikap eksklusivisme. Dengan begitu, kegiatan kerja bakti tersebut terjadi guyub rukun, damai dan terjalin interaksi positif tanpa didasarkan identitas tertentu. Mereka membentuk suatu ikatan nuansa kekerabatan, persaudaraan yang kental. Tindakan seperti ini menjadi gerbang awal dalam mengejawantahkan kembali nilai budaya adiluhung di ranah publik.

Setelah pembangunan terlaksana, rangkaian program pengembangan perpustakaan juga harus dipersiapkan. Seluruh program/rencana strategis perpustakaan seyogianya ditata secara sistematis. Dengan begitu, labeling bangunan nihil nilai tidak etis disematkan kepada perpustakaan baru tersebut. Ada beberapa langkah dalam mengoptimalisasikan perpustakaan masjid menuju kebermanfaatan.
Program awal bisa melakukan kerja sama dengan Perpusda (Perpustakaan Daerah) setempat. Perpustakaan masjid dapat mengajukan hibah buku jika dirasa masih kurang guna keperluan melengkapi koleksi buku. Naskah-naskah buku mutlak harus ramah bagi semua kalangan. Artinya, bahan bacaan mengakomodir anak-anak hingga orang tua. Selain itu, pihak Perpusda juga dapat dilibatkan ketika launching perpustakaan masjid. Rangkaian acara di dalamnya bisa meliputi pengenalan perpustakaan, workshop literasi dari pihak Perpusda, dan ditutup dengan slametan (tradisi lokal setempat).
Program selanjutnya, menciptakan semacam sunfure (sunday fun read: minggu baca santai). Supaya lebih menarik dan diminati, pihak perpustakaan dapat memberitahukan bahwa akan ada pemustaka terpilih yang memperoleh sebuah reward. Indikatornya dapat ditinjau dari keaktifan mengunjungi perpustakaan dan berlomba-lomba dalam membaca buku paling banyak. Program ini secara tidak langsung dapat menjadi alternatif solutif dalam menumbuhkan kembali minat baca pada umat.
