Merancang Masjid Ideal Berbasis Perpustakaan

Umat akan semakin memiliki rasa cinta terhadap perpustakaan tatkala mampu produktif menjadi percontohan. Misalnya, di perpustakaan terdapat buku “budi daya lele”. Dari situ, pihak perpustakaan muncul ide mengaplikasikan teori menjadi kenyataan. Sesuai arahan buku, pertama-tama membuat kolam ikan di sekitar masjid. Setelah itu, kolam tersebut diisi dengan bibit lele. Bibit lele tersebut dirawat secara konsisten hingga lambat laun berubah menjadi besar dan dapat terjual. Ini yang kemudian membuat ketertarikan umat supaya lebih giat ke perpustakaan. Mereka berpandangan bahwa dengan membaca buku dapat menghasilkan uang (literasi ekonomi). Perpustakaan menjadi role model merangsang umat lebih responsif serta peka dalam membaca kebutuhan/potensi lingkungan setempat.

Kehadiran perpustakaan di masjid semakin menemukan relevansinya ketika fenomena umat beragama saat ini jauh dari kesan ramah. Aktivitas tatanan sosial dipenuhi dengan dehumanisasi, sikap eksklusif, intoleran dan ujaran kebencian. Dalam hal ini, perpustakaan akan mengarahkan umat supaya kembali pada esensi ajaran agama dengan geliat literasi keberagamaan. Literasi keberagamaan menjadikan umat cakap dalam mengelola berbagai perbedaan di kehidupan masyarakat yang berwarna. Umat mampu membaca serta menganalisis titik temu antara agama dengan dimensi sosial, politik dan budaya. Tatanan kehidupannya tidak lagi pro-eksistensi melainkan ko-eksistensi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketika perpustakaan masjid telah berdampak positif membuat umat lebih humanis, inklusif, dan responsif. Penting kiranya memopulerkan perpustakaan masjid tersebut supaya dikenal masyarakat luas dan diharapkan menjadi percontohan. Pemerintah setempat dapat dilibatkan memperkenalkan tatkala sedang mengadakan kunjungan kerja.

Caranya dengan mempresentasikan perpustakaan masjid –dari proses gotong royong saat pembangunan hingga dampak positif bagi umat– ke daerah lain. Disisi lain, alternatif memanfaatkan media sosial juga merupakan langkah tepat. Media sosial menjadi platform efektif sebagai penyebaran informasi karena prosesnya mudah, praktis dan menjangkau sasaran lebih luas. Cara menyebarkan perpustakaan masjid dapat melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, hingga Whatsapp.

Inilah titik poin kehadiran perpustakaan di masjid. Citra masjid kembali pada kebermaknaan yang paripurna. Umat terkoneksi dan terintegrasi pada aspek penguatan literasi; literasi anak, literasi ekonomi dan literasi keberagamaan (dimensi sosial, politik, dan budaya). Hal tersebut menjadikan domain kognitif, afektif, dan psikomotorik berfungsi secara benar, tepat dan penuh kearifan. Perpustakaan masjid tidak hanya berkontribusi mencerdaskan umat. Namun juga menjadi tempat menyejahterakan, mendamaikan dan meningkatkan perekonomian umat.

Tinggalkan Balasan