Di lereng Gunung Argopuro yang sejuk, tepatnya di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, berdiri sebuah pesantren tua yang masih bertahan dengan keterbatasannya. Tidak ada bangunan megah atau fasilitas modern yang mencolok. Namun suasana religius dan jejak sejarah yang panjang membuat Pesantren Nahdlatul Arifin tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Pesantren yang didirikan oleh Syekh Haji Mohammad Noer atau yang akrab dipanggil Romo Yai ini menjadi salah satu saksi perjalanan dakwah Islam di wilayah Tapal Kuda. Meski zaman terus berubah, pesantren ini tetap menjaga tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan oleh pendirinya.

Berawal dari Hutan
Jauh sebelum menjadi pusat pendidikan Islam, kawasan berdirinya pesantren ini hanyalah hamparan hutan lebat. Masyarakat sekitar kala itu mengenalnya sebagai kawasan yang angker dan dipenuhi binatang buas. Tidak banyak orang yang berani mendekat, apalagi menetap di sana.
Namun bagi Syekh Mohammad Noer, tempat itu justru menjadi awal perjuangan. Setelah kemunduran dirinya dari jabatannya sebagai sekretaris desa pada sekitar tahun 1870-an, ia membeli lahan tersebut dan mulai membuka kawasan yang sebelumnya dianggap tidak layak penghasilan.
Dengan peralatan sederhana dan keteguhan hati, sedikit demi sedikit hutan itu dibersihkan. Sebuah rumah sederhana dibangun sebagai tempat tinggal sekaligus tempat beribadah.
