DI MANA NASKAHKU?
Tuhan, aku duduk sendiri lagi
Di atas akar takdir yang menjulur
Lalu rahasia bekerja di depan mata
Aku seperti penonton di sebuah bioskop kosong yang besar
Sendirian dengan tiket kusut

Tak ada teman bicara
Tiada cemilan pop corn
Aku gigit jari, saat film orang-orang begitu manis
Sedangkan aku tidak kebagian peran
Ah sudahlah, malam semakin naik
Aku beranjak meninggalkan kursi-kursi menyisakan sunyi
Sebelum keluar dari pintu yang tak mengingat apa-apa
Aku lihat seluruh sunyi menatap lurus ke layar
Di mana orang-orang masih dengan perannya
Sedangkan sunyi bagai patung dibiarkan
Menatap dengan pandangan mati dan beku
Sampai tiba waktuku, aku sembahyang
Merengek lagi pada Tuhan
Bagian script milikku di mana
Aku sebenarnya siapa, kenapa peranku
Dipisah dari panggung lain
Sejak pagi basah, sampai matahari meninggi
Seperti air sungai mengalir lurus
Tanpa pasang, tapi terus surut
Atau aku kehilangan naskah sejak pagi?
Riau, 2026.
JANGAN MENGINTIP DI BALIK PINTU
Katanya terlalu muda untuk mengayuh
Ke tengah laut biru
Biar dipinggir dulu
Dengan kayuh dari kayu
//
Katanya terlalu tua untuk bertarung ombak
Lebih baik di tepi kali
Dengan kail sekecil jari
Sebab angin terlalu riuh
//
Lalu orang-orang dewasa
Naik ke dada laut
Menyelam di dalam palung
Tapi katanya jangan main-main
Angin puyuh datang pergi
//
Lantas kami akhirnya melepas jaring
Mendayung sauh, menaklukkan badai
Belajar membaca arah mata angin
Lalu bersahabat dengan ombak
Sebab hidup bukan jangan, atau nanti
Tapi harus dimulai dari langkah kecil
Ke langkah besar yang pada akhirnya
Orang-orang jejaki tanpa sadar
Meski ia menghindar
//
