Oleh karena itu, dalam nuansa perayaan Imlek di tahun ini, jangan sampai terjadi lagi langkah diskriminasi yang mengekang etnis Tionghoa melakukan ritual keagamaan. Semua orang tidak terkecuali berhak melakukan perayaan keagamaan tanpa adanya paksaan dan gangguan. Maka dari itu, sudah sewajarnya kita mendukung penuh perayaan Imlek dengan suasana suka cita.
Memberikan spirit toleransi kepada mereka, mengulurkan bantuan untuk suksesi perayaan keagamaan, dan hal-hal lain yang kiranya bisa memupuk persaudaraan antar umat. Mengutip historitas tokoh Islam-Tionghoa, maka sudah sejak dari dulu kita diajarkan untuk mengamalkan toleransi. Menjadikannya sebagai satu kekuatan besar, yang mampu membangun kehidupan yang lebih baik.

Seperti halnya Laksamana Cheng Hoo yang meniadakan kekerasan ataupun Gus Dur yang meniadakan tindakan diskriminasi terhadap minoritas, kesemuanya menuju pada satu hal, yaitu terpenuhinya hak-hak semua manusia. Maka dalam kaitan nasionalisme, mencintai dan menghormati tradisi keagamaan umat merupakan cara termudah untuk memberikan kekuatan lebih pada bangsa Indonesia. Karena letak kekuatan ada pada persatuan.
