Merawat yang Tidak Terlihat

Dan di situlah momen kecil yang tidak akan kami lupa terjadi. Baha mengajukan jari kelingkingnya. Tanda janji. Bu Yuni tersenyum. Mengajukan jari kelingkingnya juga.

Dua jari kecil yang saling mengait. Sebuah perjanjian sederhana. Tapi hangat. Kami tertawa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rumah Kedua: Tanpa Basa-basi

Berlanjut ke rumah Abah Suryadi. Jemaah masjid dekat rumah. Yang oleh tetangga sering dianggap seperti “Bapaknya Baha”.

Begitu masuk, tanpa aba-aba, tanpa basa-basi, Baha langsung membuka permen gummy. Seolah-olah itu rumahnya sendiri. Selesai permen, lanjut ke jelly. Kami hanya bisa saling pandang. Antara malu dan lucu.

Tapi yang menarik, tidak ada yang merasa terganggu. Justru di situlah kehangatan itu terasa.

Bahwa ada ruang di mana anak kecil boleh menjadi dirinya sendiri, tanpa kehilangan sopan santun yang pelan-pelan sedang dibentuk.

Rumah berikutnya, Pak Yunus. Di sini, tantangannya naik level. Ada koleksi mainan. Lengkap. Menggoda.

Baha mulai “scanning”. Dari onta ke mobil. Lalu berhenti di satu titik: dinosaurus.

Seperti biasa, strategi dijalankan. Main ke belakang. Lihat-lihat kolam ikan. Bangun momentum.

Dan, Eureka… berhasil. Dinosaurus itu akhirnya ikut Baha. Tentu saja, dengan satu syarat: pinjam.

Dan seperti ritual sebelumnya, jari kelingking kembali menjadi saksi. Janji kecil antara Baha dan Bu Ifa, istri Pak Yunus. Yang bagi anak-anak, mungkin terasa sangat besar.

Hadiah yang Sudah Disiapkan

Selanjutnya, kami ke rumah Abah Sukono. Tetangga yang sudah sangat dekat dengan Baha. Bahkan sering memberinya hadiah.

Kali ini, tanpa banyak drama. Baha duduk manis di sofa. Tapi matanya sudah bekerja. Mengamati. Menghitung peluang.

Namun ternyata, ia tidak perlu berusaha. Abah Sukono sudah menyiapkan sesuatu.

Action figure Venom.

Tinggalkan Balasan