WAKTU YANG MENAKUTKAN
Mari mengingat sejenak kawan
Tentang hari-hari lampau
Di saat peluru seperti hantu
Menembus ulu hati

Siang hanya tentang matahari cemerlang
Di bawah cakrawala
Tempat seharusnya mimpi terbang bebas
Seluruh ingin bagaikan tahanan
Dikurung oleh zionis
Mimpi hanya helaan napas hampa
Lalu mereka sibuk mempertahankan detak
Sebab mata senjata
Mengintai di waktu-waktu tak terduga
Riau, 2025.
HUTAN DURI
Anak-anak tumbuh dengan ketakutan
Mereka di dalam hutan berduri
Dipenuhi hantu-hantu peluru
Yang menculik jiwa-jiwa penuh mimpi
Impian besar itu
Bagai balon di udara
Terbang tak sampai setinggi kepala
Jatuh berantah sia-sia
Riau, 2025.
SUARA YANG MELEWATI ANGIN
Ibu, aku berbisik lagi pada angin
Tapi ia pergi jauh sekali
Lalu aku bicara pada hujan
Lalu mengalir ke sungai
Di sungai, air pergi ke muara
Aku mencoba berbincang
Pada bunga-bunga
Tapi menjelang petang
Mereka direbut waktu
Malaikat Israel tak cukup membawa ibu
Yang bernapas pagi hari
Dibawa pergi sore hari
Padahal matahari belum usai
Menyempurnakan merahnya
Ibu, semenjak kau tak ada
Aku bicara pada apa sebenarnya
Entah angin, musim, dan fatamorgana
Tapi di jalan lain
Sepertinya bisikan rinduku
Menjelma embun sejuk
Di musim bunga pada kebun ibu
Riau, 2025.
POHON NASIB
Sebuah pohon nasib
Tidak selamanya memiliki buah manis
Sesekali ia jatuhkan buah pahit
Ke jalan yang biasa kita lewati
Karena orang yang lapar
Ia melahap dan sakit
Nasib membuat orang-orang sekarat
Di tengah perjalanan yang berat
Tapi, meski begitu
