Merawat yang Tidak Terlihat

Beberapa bulan sebelumnya, Baha sudah diberi Spiderman. Kini, “semestanya” lengkap.

Hari itu, Baha pulang dengan tiga “oleh-oleh”: dua pinjaman, satu hak milik. Kami hanya bisa tersenyum. Geli campur haru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lebih dari Sekadar Cerita Lucu

Mungkin, bagi orang lain, ini hanya cerita tidak penting. Tentang anak kecil yang suka mainan. Tentang orang tua yang sedikit kewalahan.

Tapi bagi kami, ini lebih dari itu. Ini tentang memori. Tentang sesuatu yang mungkin tidak akan diingat secara detail oleh anak-anak kami nanti. Tentang malam. Tentang gerimis hujan. Tentang ayunan. Tentang mainan. Tentang dinosaurus dan Venom.

Semua itu mungkin akan hilang. Tapi rasa itu semoga tinggal. Rasa bahwa bertetangga itu hangat. Bahwa berkunjung itu menyenangkan. Bahwa ada orang-orang di sekitar yang peduli.

Di kota, kita sering hidup berdampingan. Tapi tidak benar-benar hidup bersama. Kita tahu nama, tapi tidak tahu cerita. Kita berpapasan, tapi jarang berkunjung.

Dan Idulfitri, mungkin, adalah salah satu sedikit momen di mana semua itu bisa dijembatani. Tanpa alasan rumit. Tanpa agenda tersembunyi. Hanya datang. Duduk. Tersenyum. Saling bertegur sapa dan saling memaafkan.

Yang Belum Terlihat

Kami tidak tahu, apakah tradisi ini akan terus hidup. Kami juga tidak tahu, apakah anak-anak kami nanti akan melakukan hal yang sama. Dunia mereka nanti bisa jadi sangat berbeda.

Tapi kami berharap, ada satu hal yang tetap tinggal. Bahwa hubungan dengan tetangga itu penting. Bahwa kebaikan itu bisa dimulai dari yang paling dekat. Dan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi, tapi cara merawat kemanusiaan.

Sebagaimana satu pesan sederhana yang sering kita dengar: bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka muliakanlah tetangganya.

Mungkin semua ini terlihat sederhana. Anjang sana. Anjang sini. Cerita anak kecil dengan segala tingkahnya.

Tapi bukankah hidup memang dibangun dari hal-hal sederhana seperti itu? Yang kelihatan kecil. Yang sering dianggap sepele. Tapi diam-diam membentuk cara kita melihat dunia dengan lebih sempurna.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika anak-anak kami dewasa, sudah berkeluarga dan meiliki istri dan anak, mereka tidak akan ingat semua detailnya.

Tapi mereka akan tahu satu hal: bahwa di suatu hari raya, mereka pernah berjalan dari rumah ke rumah, dan belajar—tanpa disadari— tentang belajar menjadi manusia seutuhnya.

Tinggalkan Balasan