“Kita kalah, Ma.”
“Kita telah melawan Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Percakapan itu menggambarkan betapa Nyai Ontosoroh mengajarkan kepada anak spiritualnya itu untuk menghadapi kekalahan dengan kepala tegak, tentu sepanjang perlawanannya dilakukan dengan cara sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Nilai yang ditanamkan Nyai Ontosoroh adalah, ketika menghadapi ketidakadilan, yang wajib dilakukan adalah melawan ketidakadilan itu dan berjuang menegakkan yang diyakini sebagai kebenaran. Meskipun tahu akan kalah, anak-anak bumi manusia tak boleh menyerah. Harus tetap berjuang dan melawan. Karena itu, meskipun kalah, Nyai Ontosoroh mengajak Minke tetap berdiri dengan kepala tegak penuh kebanggan karena telah melakukan perlawanan. Perlawanan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Begitulah Nyai Ontosoroh merayakan kekalahan.

Karena itu, dalam perspektif Nyai Ontosoroh, seringkali menang dan kalah lebih merupakan sebagai perkara statistik, legal-formal —sebab tiap pertarungan memang hanya bisa memunculkan satu pemenang. Tapi jangan dilupakan, tiap pertarungan sekaligus juga bisa melahirkan banyak pejuang. Dengan begitu, bukan hanya kemenangan yang perlu dirayakan, tapi juga kekalahan. Sebab, kekalahan bukanlah sesuatu yang menyedihkan dan harus ditangisi. Nilainya bukan ada pada kekalahannya, melainkan pada perjuangan dan perlawanannya.
