Penyair membandingkan antara airmata yang jatuh di hatinya dengan hujan di sebuah kota yang entah di mana. Jika ini adalah bahasa komunikasi langsung masyarakat umum pastilah akan lain jadinya, orang akan bilang; airmata di pipimu, atau hujan di kota Jakarta, misalnya.
Penyair punya keistimewaan untuk mengekspresikan bahasa sehingga bahasa itu menjadi kaya (terutama dalam ekspresi pengucapannya). Walaupun itu berisiko untuk dibilang aneh, gila, atau bahkan lebih jahat lagi, tidak berguna.

Pandangan yang salah tentang penyair sungguh membuat kita miris. Tapi akhirnya, kita mengerti sekarang, mengapa penyair menjadi penting untuk bahasa dan bangsa, puisi menjadi penting bagi kehidupan kita, dan mengapa metafor menjadi sangat penting dalam puisi.
Pertanyaan lain setelah mengerti cara kerja metafor adalah, jika demikian, apakah puisi itu kenyataan sebenar-benar yang terjadi di dunia? Apakah metafor adalah cara mengatakan dunia dengan sebenar-benarnya? Apakah penyair adalah orang yang mengatakan kebenaran tentang dunia dan kehidupan?
Mungkin, saya tidak berani mengatakan itu memang benar, sebab dalam banyak sekali puisi yang pernah saya baca, barangkali sebagian tidak mengatakan apa-apa tentang kenyataan, bahkan seringkali saya temui frasa-frasa bermetafor mereka kurang kuat melukiskan kenyataan duniawi itu, dan memang ada beberapa penyair yang mampu meramalkan kematiannya melalui puisi yang ditulisnya, tapi saya tidak berani menyimpulkan apa pun.
Sampai di sini kita semua tahu, puisi memiliki dunia sendiri, begitu yang kita baca dari ulasan-ulasan penyair besar. Puisi masih tetap sebagai misteri yang perlu diselami kedalamannya, dasar jurang ketidaksadaran penyair mengekspresikan bahasa yang digunakannya. Dan kita masih menuju ke sana, masih berusaha menangkapnya, masih tak henti-hentinya “menjadi”. Sekian.
