Metafor, dengan kata lain, adalah memindahkan sesuatu ke sesuatu yang lain (perubahan tempat, terjadi perubahan kualitas), meminjamnya, kemudian meletakkannya dengan tepat untuk mendapatkan gambaran yang tepat tentang momen kenyataan yang direpresentasikan ke dalam bahasa.
Cukup sulit memang untuk membuat definisi yang jernih tentang metafor, tapi metafor menjadi cara yang seringkali dipakai sebagai teknik oleh para penyair untuk menuliskan puisi-puisinya.

Metafor tidak sepenuhnya hadir dalam tiap baris-baris puisi, pada beberapa penyair ia digunakan pada saat dan celah tertentu yang dianggap penyair tepat ditaruh dalam puisinya. Tapi pada tiap puisi, sepanjang yang saya ketahui, selalu terdapat metafor.
Jika Anda pernah belajar atau sedikit membaca tentang linguistik, ada teori yang terkenal oleh Ferdinand de Saussure tentang segitiga tanda. Ketika saya mendalami mengenali teori tanda tersebut, saya berfikir bahwa metafor adalah upaya untuk menemukan sekaligus memperkaya bahasa baik dari segi makna atau ekspresi.
Jadi secara luas, metafor tidak hanya membuat frasa-frasa saja, ia bisa mencakup kalimat, bahkan paragraf. Dalam hal ini, saya membatasi diri pada metafor dalam frasa-frasa untuk puisi.
Metafor adalah perbandingan-perbandingan. Dalam puisi, perbandingan-perbandingan itu dipakai oleh penyair untuk mengekspresikan sesuatu yang ia tangkap pada momen puitiknya. Penyair tentu saja memilih, bahkan tidak segan-segan membuang apa-apa yang tidak perlu atau tidak mewakili apa yang ingin dia ungkapkan.
Saya teringat dua baris puisi Paul Verlaine, penyair besar Prancis, yang begitu mengesankan; cucuran airmata di hatiku/laksana hujan turun di kota itu. Frasa bermetafor yang sangat indah, yang menggambarkan betapa sedih batinnya.
