“Sesungguhnya ilmu saraf diibaratkan sebagai ibumu, sedangkan ilmu nahu sebagai bapakmu.” (Qowaidu shorfiyah).
Ilmu saraf bisa dikatakan sebagai induk atau ibunya segala ilmu. Sebab, dari ilmu saraf menghasilkan bentuk kata dan makna. Dari bentuk kata tersebut lahirlah bermacam ilmu.

Adapun, ilmu nahu dikatakan sebagai bapak dari ilmu pengetahuan. Sebab, tugas dari ilmu nahu adalah memperbaiki setiap lafal atau kalimat agar menjadi sebuah kalimat yang bisa dipahami.
Namun, pada faktanya, ilmu saraf ini bukanlah ilmu yang mudah dipelajari, meskipun bukan berarti tidak bisa dipelajari sama sekali. Maka dari itu, setiap pesantren memiliki ciri khas tersendiri dalam mengajarkan ilmu saraf agar mudah dipahami santri-santrinya. Yang semua itu tidak lepas dari yang namanya metode pembelajaran.
