Kolom-kolom tersebut diadakan guna mendapatkan jawaban, yakni shigat dari lafaz yang ditanyakan itu apa. Kemudian, wazan-nya apa, bina-nya apa, asal kalimatnya apa, dan seterusnya. Kolom tersebut nantinya ditulis sesuai dengan jawaban dari lafaz yang diberikan tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan kolom yang bertuliskan shigat-shigat lain pada tashrif istilah, seperti fi’il madhi dijawab dengan fi’il madhi, fi’il mudhore dari lafaz ini apa, dan seterusnya sesuai dengan bab yang ditanyakan. Dalam hal ini, seperti tasrif Tsulasi Mujarrad, Tsulasi Mazid, Ruba’i, dan Khumasi.


Keseluruhan dari proses pembelajaran yang dilakukan di Pesantren Cigaru ini pada umumnya masih sama seperti dulu, yaitu lalaran bersama yang dilanjutkan dengan latihan soal yang diberikan oleh guru untuk dikerjakan para santri untuk menuliskannya di papan tulis yang sudah disediakan. Hanya, sekarang bukan lagi Mbah Kiai Zaeni langsung yang mengajar karena beliau lebih dulu dipanggil Allah (semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT, amin.)
Sekarang pembelajaran saraf di Pesantren Cigaru dilanjutkan oleh para santrinya yang mahir dan sudah diamanahi atau dipercaya untuk mengampu kitab tersebut. Pembelajaran saraf di Pesantren Cigaru ini memang lebih terkesan dengan latihan-latihan soal dan mentasrifkannya. Dengan itulah guru melatih para santri untuk aktif berpikir dalam proses kegiatan belajar dan mengajar.
