Secara umum, aktivitas dalam perayaan meugang ini memiliki dimensi sosial kegamaan dan ukhuwah. Tradisi Meugang di berbagai wilayah Aceh berbeda-beda. Ada daerah yang suka menu meugang khasnya, umpamanya daging kerbau disukai di daerah tertentu saja, sedangkan kawasan lainnya kurang “sreg’’ dengan daging kerbau, begitu juga lembu.
Begitu juga masakan dari olahan daging ini dapat berbeda sesuai karakteristik wilayah tersebut. Misalnya di Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan beberapa daerah lain masyarakatnya suka memasak kari atau sop daging.

Masyarakat di Aceh Besar, pada hari meugang sangat senang memasak daging asam keueungdan sie reuboh atau daging yang dimasak dengan dicampur asam cuka. Tradisi meugang merupakan warisan leluhur (endatu) yang telah berlangsung lama.
Tradisi meugang memiliki beberapa dimensi nilai-nilai ajaran Islam dan adat istiadat dalam masyarakat Aceh. Hari meugang identik dengan hari bersedekah dan berbagi. Momentum meugang terlebih adanya saweu gampong (mudik) kala jelang hari meugang, tentunya ada nilai religiusnya tersendiri. Meugang pada hari raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadan.
Tradisi meugang tentu menjadi satu momen berharga bagi petinggi istana, para dermawan, dan orang kaya untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Tradisi meugang juga menjadi nilai kebersamaan karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahim di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan. Begitu menyatunya masyarakat Aceh di kala menyambut bulan suci Ramadan.
Masyarakat Aceh perantau di negeri orang akan segera pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga pada uroe meugang, dan menghormati kedua orang tua dan teungku (ulama).
Nilai lainnya di balik tradisi meugang bukan hanya bersifat ala jasmaniah dengan makan daging dan sejenisnya. Namum nilai rohaniah juga apabila digali sangat besar di balik tradisi yang telah dilakukan turun menurut itu dalam kalangan masyarakat Aceh.
