Bantul, Juni 2022.
MEWARNAI PUISI

kau cuma ingin mewarnai puisi
dengan sisa pensil warna dari masa lalu
yang sudah pendek karena dipakai melulu
ujungnya perlu diraut biar bisa dipakai lagi
untuk mewarnai bibir dan pipi kata
sebab katakata kini lebih suka dandan daripada mandi
pernah sekali mau mandi, tapi air sudah keruh seperti warna nasib yang kelelahan
yang penting badan tidak bau, katanya
ia pun lanjut kerja menjadi puisi biasa-biasa saja dan rendah hati
cuma butuh gincu natural dan blush tipistipis
dari pensil warna jadul yang warnanya cepat luntur
karena terus digigit puisi,
pensil warna makin tumpul dan kehabisan badan
padahal toko ingatan sudah lama tutup
lalu entah mengapa sekitar jadi gelap seperti semua lampu sengaja dimatikan
dan puisi makin mahir menggerayangi kepalamu yang telat membayar tagihan
