MISALKAN KITA DI MASALALU

Annuqayah, 16-19 September 2024.

MELANKOLIA SEBUAH NEGERI

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sepuluh tahun kemudian
Seorang anak lahir dari rahim kesedihan
Bapaknya tengah disandera dari penjara ke penjara
Ibunya sibuk mumunguti sisa-sisa keserakahan
Di depan istana negara.

*
Kuntum bunga gagal mekar
Sebab tanah hanya menyimpan hama
Kesedihan-kesedihan lain dibelenggu
Dalam cadas batu
Dalam nisan pemakaman massal
Bertahun-tahun lalu

*
Negeri yang bagaimana mesti kami gambarkan:
seorang pemahat kayu
yang sedang menata masa depan
anak-anaknya di kursi rotan tak layak pakai?
Atau seorang pedagang asongan
Yang telah begitu lihai menjualbelikan kebenaran?

*
Sepeluh tahun kemudian
Anak-anak berlarian memegang bendera
dari satu bukit ke bukit lainnya
Angin keparat, sakit sekarat
Mereka kemudian menggali kepala mereka sendiri
karena kehilangan tanah
untuk mengibarkan merah putih

Annuqayah, 2024.

POTRET PAK PRESIDEN

Matahari begitu binal menyengat kota
Saat potret pak presiden terpampang di papan reklame
Orang-orang terkencing-kencing
Lari lintang pukang
Ketakutan-ketakutan yang lain
Membuat rumah di segala penjuru

“tidakkah hidup ini adalah
Sepenuhnya milik kami?”

Di papan reklame itu
Peluru-peluru dimuntahkan dari arah masa lalu.
Senyum keparat, timpa menimpa dengan gempar angin
Dan tangannya yang buntung
Telah sempurna mengubah lanskap langit
Udara berlapis kolusi, korupsi, dan praktik monarki.

“kemerdekaan tak ubahnya ladang tembakau
Yang disekat hujan”

Di papan reklame itu
Dia tersenyum sekali lagi
Menatap nyalang segenap penjuru tanah air ini.

Amarah, 2024.

Ilustrasi: lukisan Hanung S.

Tinggalkan Balasan