MISALKAN KITA DI MASALALU

Di Taneyan malam itu, Bim
Aku mulai paham bahwa dalam lagu itu tercipta batas
Waktu juga sudah makin lawas
Dan kesedihan-kesediha lain
Mulai dirancang di belakang.

2/Bhintaro

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemudian pantai.
Pada debur ombak berikutnya
Kau menghadiahiku lanskap yang tipis
Sebuah kapal. Seseorang di buritan.
Layar-layar berkembang. Langit berwarna tembaga.
Dan angin meraung;

Pelayaran telah lama dibelenggu kabut
Dan ia tak pernah melihat takat mapum semenanjung
Kompas yang dikantunginya hilang di tengah lautan
Ia hanya terapung dalam kemalangan
Di seret dari satu derita ke derita yang lain.

Senja itu, di Bhintaro, Bim
Aku paham lanskap yang kauberikan adalah batas!
Dan di sisi lain kesedihan telah dipahat pada dek-dek kapal
Untukku berlayar. Sendirian.

3/Sudi Mampir

“Semangkuk bakso, 10 sendok cabe
Cuka secukupnya, jangan pernah kau campuradukkan
Dengan kenangan, Damayanti
Karena setelah mangkuk terakhir habis
Kau hanya akan menyeduh tangis”

Betapapun aku baru menyadari
Bahwa itu merupakan batas kata-kata
yang tak lagi berhamburan dari tubuhmu
Di hari-hari berikutnya.

Maka hari ini, Bim
Sudi mampir hanya kedai bakso biasa
Orang-orang lalu lalang
Sepi susul menyusul di antara
Denting garpu dan isak tangis yang tersimpan

Pelanggan-pelanggan yang lain tidak akan pernah sadar, Bim
Bahwa dulu, di sudi mampir
Seorang laki-laki yang kasmaran
Sedang meleburkan segenap cintanya
Dalam semangkuk bakso
Si perempuan melahapnya dengan tenang
Ia tak pernah tahu bahwa sewaktu-waktu
Semangkuk bakso bisa menjadi apologi air mata
Menjadi stasiun waktu yang pergi sia-sia.

5/Lancaran

Di perempatan jalan ini
Gemetar di dadaku menggugurkan
Sekujur tubuh daun-daun
Langit keperakan, angin basah
Melumuri kita berdua

”apakah tidak sekarat menanggung kangen sendirian” Katamu.
Kemudian hari mulai rembang,
Cuaca hilang,
Kau menjelma butir-butir embun
Di gugur daun-daun.

6/Pelabuhan Dungkek

“berangkatlah” katamu
Aku pun sudah berkemas untuk kenyataan yang lain
Karena penyair terlahir dari derita
dan teka-teki yang entah

pada peluit ketiga
angin pucat pasi membawa jerit ombak
ke gigir pelabuhan
di sanalah panggung kesedihat itu digelar
namun, sedu sedan di dadaku telas habis
air di mataku kandas untuk sekadar menangis.
Lambung kapal akhirnya menjauh
Menciptakan kenyataan baru
Dalam dek kapal pelayaran derita telah dimulai
Dan kau tentu tak pernah paham
Bahwa maut selalu mengintai di tiap-tiap wajah perpisahan.

Tinggalkan Balasan