Misteri Beras Mbah Wali

Pernah pada suatu siang, ketika kemarahan warga sekitar masjid telah memuncak, Pak Ragio, kepala RT, mewakili kegeraman warga mengusir Mbah Saben secara terang-terangan.

“Kamu ini manusia apa bukan? Pendatang baru di kampung orang mbok yang punya tatakrama dan adab!”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak kepalang tanggung, banyak warga yang menyaksikan pengusiran itu. Mereka juga bersorak-sorak seiring suara Pak Ragio meninggi. Tak ada ketakutan barang sedikitpun, Mbah Saben diam sama sekali. Wajahnya menunduk menatap lantai masjid.

Aku yang sedang menonton acara televisi di rumah karena mendengar sorak-sorak ramai pun keluar dan mendekati sumber suara. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat mereka sedang meneriaki Mbah Saben. Kuamati Mbah Saben yang lunglai menghadap ke lantai itu.

Apakah Mbah Saben merasakan kesedihan? Atau, memang seperti ini tindakan desa-desa sebelumnya yang dikunjungi Mbah Saben? Batinku bertanya-tanya. Kulihat di sekitarnya. Duh, Tuhan, mengapa di antara sekian banyak warga yang ikut serta dalam pengusiran ini adalah orang-orang miskin yang tidak menyadari bahwa beras yang setiap pagi mereka nikmati itu adalah pemberian Mbah Saben? Seperti inikah memang lazimnya manusia; tak menyadari kebaikan orang lain sebab terhalang oleh pikiran busuknya sendiri?

“Gara-gara orang tua itu, anakku tak mau ngaji lagi di masjid!” teriak salah satu warga.

“Suamiku juga tak mau jemaah di masjid!”

Semakin lama, yang keluar dari mulut mereka kian tak terkendalikan. Tetapi, Mbah Saben diam saja. Aku terpaku. Aku bimbang antara mau mengatakan kebenaran ini atau tidak. Akhirnya, aku diam seribu bahasa. Mematung dan terkatung di antara kebimbangan. Jika aku mengatakan kebaikan Mbah Saben, maka bisa dipastikan Mbah Saben akan pindah dari desa. Tiada masalah bagiku. Tapi bagi orang-orang miskin? Bagaimana nasib mereka nantinya ketika tak ada beras lagi dan mereka tidak memiliki stok beras? Susah, bukan? Kawan, apa yang akan kau lakukan ketika berada di posisi sepertiku saat ini?

Tapi keadaan memaksaku untuk mengatakan kebenaran itu, Kawan. Aku tidak kuat melihat Mbah Saben diam mematung seperti itu. Aku kemudian menghampirinya dan memeluknya. Warga yang melihatku seakan-akan membela Mbah Saben pun terdiam. Tak ada sorak sebentar. Pada hening yang sebentar itu, aku melantangkan suara: “Kalian harus tahu! Kalian Harus tahu!” Aku tak kuat melihat Mbah Saben lunglai. Air mataku pecah.

“Beras yang ada di depan rumah kalian adalah pemberian Mbah Saben!” Bodoh! Bodoh kalian semua memperlakukan Mbah Saben seperti ini….” Aku benar-benar menangis. Sejadi-jadinya. Mungkin, itu adalah tangisan paling histeris dalam hidupku.

“Omong kosong!”

“Omong kosong!”

Tinggalkan Balasan