Misteri Beras Mbah Wali

Begitulah tanggapan warga yang semakin banyak jumlahnya. Perkara pengusiran Mbah Saben pada hari itu ternyata membuat hampir seluruh warga desaku berkumpul di depan masjid.

Aku lemas. Ternyata kebenaran yang kusampaikan tidak dapat meredakan kebencian warga kepada Mbah Saben. Aku sangat muak sekali dengan perlakuan ini. Dan yang harus kujunjung tinggi jauh melebihi kemuakan adalah empatiku pada orang-orang miskin. Pikirku: Aku tidak punya banyak harta untuk kusedekahkan pada mereka, tetapi apa salah bila bila aku memperjuangkan ini?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketika sedang bergelut dengan pikiran itu, Mbah Saben menepuk pundakku. Ia bangkit dari duduknya dan mengisyaratkan agar aku mendekatkan kepala. Aku mendekatkan kepala. Ia dekatkan bibirnya pada telingaku. “Tiga hari lagi, tolong, gubukku setiap jam satu malam, Le,” bisiknya lirih. Aku tidak paham maksud perkataan Mbah Saben karena suara sorakan warga yang semakin keras.

“Apa Mbah? Saya tidak mendengarnya. Berisik,” timpalku dengan suara keras.

“Tiga hari lagi, tolong ambil beras di bawah gubukku setiap jam satu malam. Kamu bagikan pada orang-orang yang membutuhkan, Le.” Kali ini aku mendengarnya. Mbah Saben lalu beranjak berjalan menjauhiku dan kerumunan warga yang mengusirnya.

“Setiap hari, Le!” teriaknya dari jarak yang belum jauh dariku.

Dan siang itu, Mbah Saben telah benar-benar pergi.

***

Malam ketika sedang berziarah di salah satu makam waliyullah, aku melihat Mbah Saben tersenyum kepadaku. Sontak aku berteriak memanggilnya. Ia melambaikan tangannya. Aku berlari mendekatinya. Tak jauh dari jaraknya melambaikan tangan, tiba-tiba sudah hilang dari pandanganku. Dan alangkah kagetnya aku karena tepat di bawah bekas Mbah Saben berdiri adalah sebuah makam tua. Nisannya telah tertutupi tanah. Aku menggosoknya. Terpahat di nisan itu: Abdullah bin Nur alias Mbah Saben.

Begitulah kemudian aku menceritakan cerpen ini sebagi bentuk karomah dari beliau. Sedang beras wasiatnya hingga kini masih bisa dinikmati orang-orang miskin di desa kami. Duh, siapa sebenarnya Engkau, Mbah?

ilustrasi: detik.com.

Tinggalkan Balasan