//diabiarkannya yang tak terucapkan// merupakan penanda dari sebuah tetes air yang datang tanpa berucap kata-kata. Tiba-tiba saja riaknya mengalir, menyesap ke seluruh penjuru arah guna menjadi pelindung kehidupan. //diserap akar pohon bunga itu// setelah hujan (bulan Juni) turun, akar pohon-pohon menyerap untuk menjadikan kesegaran dan tanaman kembali berproduksi.
“Pohon bunga” merupakan lambang keindahan. Pada saat itu, keindahan dan kebahagiaan menguasai jiwa seluruh alam. Pohon-pohon mulai bersemi, daun-daun terlihat segar, dan bunga-bunga mulai mekar. Suasana mulai berubah, dari kering kerontang menjadi asri dan menyejukkan. Maka, “Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?”

Rindu, Bijak, dan Arif
Setidaknya ada tiga hal pokok yang tersurat di dalam puisi Sapardi Djoko Damono ini. Pertama, rindu, yang merupakan rasa sayang yang begitu merasuk. Rindu akan segala sesuatu yang halal merupakan sebuah keniscayaan. Rindu kepada istri/suami, rindu kepada sahabat, rindu kepada guru, rindu kepada kampung halaman, bahkan rindu kepada Tuhan. Rindu adalah sesuatu yang suci, selama kerinduan itu jatuh kepada sesuatu yang halal.
Kedua, bijak adalah menggunakan logika dan akal budi di dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Di dalam puisi Sapardi ini terdapat pada larik yang kelima atau bait yang kedua baris yang pertama. Visi dan misi puisi ini memberikan nasihat kepada kita untuk selalu bersikap bijak dan berbuat bajik. Kedua sifat ini apabila merasuk di dalam karakter seseorang maka orang tersebut akan mendapat derajat yang tinggi baik di lingkungan manusia ataupun di sisi Allah.
Seseorang yang mempunyai karakter bijak, akan menggunakan akalnya untuk berbuat kebaikan bagi diri sendiri maupun orang banyak. Perbuatan ini akan melahirkan nilai-nilai logika yang dihormati oleh banyak orang. Kehormatan seseorang ditentukan oleh sikap dan tindakan bijaksana yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, arif dan bijak adalah dua sisi mata uang yang saling mengisi dan melengkapi. Di dalam puisi ini, kata bijak terdapat pada bait ketiga baris pertama dengan konteks hujan bulan Juni serta serapan akar pohon yang berbunga. Kearifan seseorang ditentukan seberapa dalam seseorang itu dalam memahami dan menghayati kaidah sosial untuk diterapkan dalam kehidupan. Dengan demikian, seseorang akan dikatakan arif sekaligus bijak jika tindak dan aktivitasnya memberikan rasa aman bagi lingkungannya dan memberikan rasa tentram bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Logika ilmiah yang berdedikasi pengetahuan sosial akan memberikan nilai kearifan di dalam konteks ber-hablum minannas; hubungan sosial kemasyarakatan. Lebih dari itu, nilai-nilai sikap arif juga akan semakin mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Maka, tidak ada salahnya ketika kita berusaha untuk memadu-padankan sikap arif yang memang di-visi_misi-kan di dalam puisi Sapardi Djoko Damono ini.
Sebagaimana diungkapkan dalam sebuah artikel tentang puisi ini, yang menjelaskan bahwa; “Puisi Hujan Bulan Juni terdiri dari 12 baris, memiliki 6 subide, semacam alinea dalam narasi prosa. Masing-masing alinea memiliki ide tertentu, seperti penantian yang tabah, kerinduan yang dirahasiakan, penantian yang bijak, penghapusan masa lalu yang menimbulkan keraguan, kearifan penantian, dan penantian yang berujung kebahagiaan.”
“Puisi Hujan Bulan Juni merupakan puisi berirama eufoni yang bunyinya harmonis nan lembut. Tiap baris disajikan dengan kata yang halus dan dengan gaya bahasa kiasan yang personifikasi yang didapat dalam kata hujan dikiaskan seperti manusia yang bersikap tabah, arif, dan bijak.”
Jelas sekali nampak bahwa puisi Sapardi ini memiliki ruh dan jiwa yang arif dan bijaksana untuk menanamkan rasa rindu kepada karunia Tuhan. Penantian yang harus sabar dan tabah, menjadikan masa lalu sebagai cermin untuk melangkah ke masa depan yang gemilang. Dalam bahasa al-Quran, “waltandhur nafsum ma qaddamat lighath”, (hendaknya seseorang itu melihat kejadian masa lalu untuk (kesempurnaan) hidup besok/yang akan datang.)
Sapardi Djoko Damono adalah tokoh sastrawan Indonesia yang meletakkan lirik puisi di dalam diksi yang mudah dicerna dengan pilihan kata yang sangat sederhana. Tetapi kesederhanaan yang dimiliki memberikan dampak positif yang luar biasa. Bahasa yang apa adanya, tetapi mempunyai nilai-nilai logis yang ada maknanya.
Semoga kita mampu menggali makna itu dan menjadikannya spirit untuk berbuat banyak kebaikan dengan larik-larik puisi. Aamiin!
