Misteri “Hujan Bulan Juni”

Dengan kata lain; satu-satunya bulan (dari 12 bulan yang ada) yang tabah adalah bulan Juni. Mengapa? Karena di bulan Juni, hujan begitu ditunggu-tunggu untuk segera mengguyur tanah dan tanaman yang ada.

Hujan di bulan Juni adalah suatu anugerah. Nikmat hujan yang begitu dirindu, diinginkan oleh makhluk hidup di muka bumi. //dirahasiakannya rintik rindunya//kepada pohon berbunga itu//; sebuah romansa kerinduan yang “dirahasiakan”, tidak berlu meledak-ledak dalam tafakur kerinduan. Berjalan secara normatif, dengan tetap bersyukur atas nikmat hujan yang telah diberikan Tuhan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pohon berbunga adalah sebuah ungkapan kebahagiaan. Bunga adalah lambang kebaikan, keindahan yang akan melahirkan ritme dan nuansa kebahagiaan. Setelah hujan turun, harum tanah seolah pendarkan cahaya kerinduan yang selama ini tertahan dan tertanam di ceruk hati yang paling dalam.

Rintik rindu  yang dirahasiakan hujan di bulan Juni melahirkan kebahagiaan yang begitu kuat. Turunnya hujan merupakan luapan rindu yang mengantarkan rasa kebahagiaan tersendiri. Di antara rintik dan rinai hujan, ada gending kebahgiaan yang tidak bisa diwakilkan oleh hujan di bulan lainnya.

Jejak-jejak Kaki

//tak ada yang lebih bijak//dari hujan bulan juni// adalah larik puisi yang menyampaikan hakikat hujan di bulan Juni. Hujan di bulan ini mengantarkan titik-titik air di sela-sela akar dan daun tanaman untuk dijadikan bekal hidup selanjutnya. Kemarau yang telah membakar keadaan, menjadikan hujan bulan Juni menjadi penawar dahaga baik bagi tanaman, hewan, maupun manusia.

//dihapusnya jejak-jejak kakinya// dapat ditafsirkan sebagai jalan hidup yang terjadi di musim kemarau. Rumput yang kering, pepohonan yang ranggas, tanah yang pecah-pecah menjadi saksi bisu atas kondisi keadaan di musim kemarau (di bulan Juni). Jejak-jeka ini telah dihapus dengan hujan di bulan Juni. //yang ragu-ragu di jalan itu// karena hujan di bulan Juni hanya sebuah awal. Tidak semua jejak kemudian hilang tak berbekas.

Tetapi masih ada di sana-sini (ragu-ragu) beberapa tanaman yang belum tersentuh rintik hujan, juga tanah-tanah kering yang masih perlu guyuran hujan di bulan-bulan berikutnya. Setidaknya, meski tidak begiru purna, tanaman sudah mulai segar, tanah juga mulai hidup, dan hewan-hewan juga tidak terlalu resah di dalam penantian.

Yang tak Terucap

Hujan merupakan sebuah rahmat. Merupakan siklus keseimbangan air yang ada muka bumi ini; tidak berkurang pun tidak berlebih. Siklus air dari air yang menggenang, kemudian terjadi perubahan ke penguapan (gas), dan selanjutnya dibawa angin dalam bentuk jenuh, serta luruh dan gugur sebagai geriap hujan. Siklus hujan ini akan terus terjadi sepanjang masa hingga hari kiamat.

//tak ada yang lebih arif//dari hujan bulan Juni// sebagai bentuk kebijakan dan kecerdikan karena hujan di bulan ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Ketika kondisi kerontang menguasai bumi, ladang dan sawah terbakar, tumbuhan dan tanaman meranggas dan gersang, maka hujan (bulan Juni) tiba-tiba datang. Merupakan suatu kearifan yang luar biasa ketika yang ditunggu-tunggu dan dinanti-nanti banar-benar datang bagai cerdik-pandai yang menghaturkan ilmu kebijaksanaan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Nikmat hujan memang tidak terungkapkan. Tetapi riak gelombang airnya menjadi penanda akan adanya kehidupan. Bukankah di dalam al-Quran, Allah berfirman, “Dan kami jadikan segala sesuatu dari air (menjadi) hidup.” Air, dalam segala jenisnya merupakan cikal-bakal kehidupan yang eksistensinya akan selalu diharapkan.

Tinggalkan Balasan