Kunci akhlak yang tertanam dalam diri seseorang, akan menjadikannya terhindar dari sombong dan tinggi hati. Sebab, kunci akhlak mengajarkan untuk memandang diri sendiri dengan segala kekurangan dan memandang orang lain dengan kesempurnaan. Sehingga, tidak ada celah dalam kunci akhlak untuk merasa lebih baik ketimbang orang lain.
Kunci akhlak juga akan membuat seseorang menghormati selainnya tanpa pandang bulu. Tak peduli apakah ia lebih muda, lebih tua, atau bahkan tak seagama. Karena yang hanya jadi pusat perhatian adalah rasa bahwa diri sendiri lebih hina daripada orang lain, dan orang lain lebih sempurna ketimbang diri sendiri. Kunci akhlak adalah kebalikan dari qalil al-Adab.

Oleh karena itu, qalil al-adab ialah melihat diri sendiri dengan kesempurnaan, dan melihat orang lain dengan kekurangan. Sehingga, adanya orang yang merasa dirinya lebih sempurna dari selainnya, hingga ia menghujatnya dan memakinya adalah bentuk nyata dari qalil al-adab.
Al-Salaf al-Shalih, yang terdiri para sahabat, tabi’in dan para ulama terdahulu, adalah para pengamal kunci akhlak ini. Seperti dijelaskan oleh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam al-Tanbih al-Mughtarrin. Al-Sya’rani menuturkan, bahwa sebagian dari akhlak para al-Salaf al-Shalih adalah memperbagus adab kepada orang yang kecil, lebih-lebih pada orang yang lebih besar, juga pada orang yang jauh, lebih-lebih pada orang yang dekat, dan kepada orang yang bodoh lebih-lebih pada orang yang berilmu. Dan kunci akhlak adalah memandang kekurangan dalam diri mereka, dan kesempurnaan dalam diri selain mereka.
Ali bin Abi Thalib berkata: “Paling berilmunya manusia adalah orang yang sangat besar takzimnya kepada ahli la ila ha illallah (orang yang bersyahadat/mengakui keesaan Allah SWT)”. Ungkapan Ali bin Abi Thalib ini menunjukkan bahwa kepada siapa pun, selama ia bersyahadat, seorang muslim haruslah menghormatinya.
Bakr bin Abdillah al-Muzanni berkata: “Bila engkau melihat orang yang lebih besar darimu, maka hormatilah dan katakan bahwa ia lebih dulu masuk Islam dan beramal salih ketimbang diriku. Jika engkau melihat orang yang lebih kecil darimu, maka hormatilah dan katakan pada dirimu bahwa sesungguhnya diriku telah mendahuluinya dalam dosa-dosa. Bila kau dimuliakan oleh manusia, katakan bahwa ini adalah anugerah Allah atasku dan aku tak berhak atas ini. Jika manusia menghinakanmu, katakanlah bahwa hal ini disebabkan dosa yang telah aku perbuat. Dan jika kau melempari anjing tetanggamu dengan kerikil, sungguh kau telah menyakitinya.” Perkataan al-Muzanni ini adalah penjabaran atas kunci akhlak.
Kunci akhlak dalam penjelasan al-Ishaqy ialah bila kita melihat orang yang lebih tua daripada kita, kita akan memuliakan dan menghormatinya, karena kita mengakui bahwa ketaatannya kepada Allah Ta’ala dan mengikutinya terhadap sunnah Rasulillah SAW lebih banyak daripada kita. Dan bila kita melihat orang yang lebih kecil daripada kita, kita akan menyayanginya dan berbelas kasihan padanya, sebab kita mengakui bahwa kelupaannya (kepada Allah SWT) dan kesalahannya lebih sedikit daripada kita. Dan bila kita melihat orang yang selain agama kita, kita akan menyayanginya dan berlemah lembut padanya, mendoakannya dan meminta kepada Allah SWT agar memberinya petunjuk, karena kita mengakui, keimanan kita ada dalam ilmu Allah SWT dan kehendak Allah SWT.
Maka, iman adalah kegaiban dari kita, apakah kita akan berakhir dengan khusnul khotimah atau dengan su’ul khotimah?
