Abu Hamid al-Ghazali berkata: “Janganlah kamu meremehkan seseorang baik masih hidup maupun telah meninggal, sehingga dirimu akan hancur, karena kamu tidak mengetahui apakah ia lebih baik darimu atau tidak? Dan apabila ia seorang yang fasik, maka mungkin saja akhir hayatmu akan sepertinya, sedangkan ia diberi khusnul khatimah.”
Sebagian guru-guru tarekat juga berkata: “Janganlah kamu menghina orang lain, sebab mungkin saja ia akan menjadi orang yang mulia dan kamu menjadi orang yang hina, semua itu akibat dari ulahmu sendiri.”

Dua ungkapan ini memperlihatkan betapa para ulama dan pendahulu yang salih sangat memperhatikan terhadap sikap memandang diri sendiri dengan kehinaan, dan memandang orang lain dengan kemuliaan. Yang senada, juga dengan melihat kekurangan atas diri sendiri, dan kesempurnaan atas orang lain. Dengan demikian, pada hakikatnya al-ashlu fi al-adab adalah hal yang diajarkan dan dipraktikkan sedari dulu oleh para pendahulu agama Islam.
Al-Salaf al-Shalih sebagai para praktisi al-ashlu fi al-adab, pada hakikatnya adalah meneladan Rasulullah SAW. Jadi, dapat dikatakan bahwa al-ashlu fi al-adab bersumber dari Kanjeng Nabi SAW. Pun, Nabi Muhammad SAW adalah penerima wahyu dari Allah SWT, sehingga apa yang diajarkan dalam agama terlihat dalam Rasulullah SAW. Al-Ishaqy menjelaskan bahwa al-ashlu fi al-adab, dalam al-Muntakhabat pada bab al-‘Ibrah wa al-Qudwah wa al-Uswah, yakni mengambil pelajaran, mengikuti, dan meneladan Rasulullah SAW.
Dalam beberapa al-Sirah al-Nabawiyyah, tampak jelas bahwa memandang diri sendiri dengan kekurangan dan orang lain dengan kesempurnaan diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah SAW. Seperti ketika ada seorang pengemis tua Yahudi, tuna netra, yang selalu mencaci maki Rasulullah SAW, namun Nabi Muhammad SAW justru menghampirinya, memberinya makan bahkan menyuapinya secara langsung. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Abul Hasan al-Ali Hasani al-Nadwi dalam al-Sirah al-Nabawiyyah.
Sikap ini jelas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak merasa bahwa lebih baik dari si pengemis tua itu. Meskipun, si pengemis tua itu adalah orang Yahudi, namun Kanjeng Nabi Muhammad SAW menunjukkan bagaimana beliau, dan islam itu sendiri, sangat menghormati dan memuliakan orang lain, terlebih pada yang lebih tua.
Dengan demikian, jelas sekali bahwa akhlak sangat penting dalam agama Islam. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para al-Salaf al-Shalih. Oleh karenanya, guna menumbuhkan kembali misi kemanusiaan dan sosial agama Islam, marilah menghidupkan kembali keidentikan agama Islam dengan akhlak terpuji dan tata krama yang baik, dengan menjadikan kunci akhlak sebagai moral sosial. Melihat diri sendiri dengan segala kekurangan, dan melihat orang lain dengan segala kesempurnaan. Wallahu a’lam bi al-Shawab.
