Mozaik Keilmuan Hauzah: Pesantren Versi Iran

Sementara, kaum Syiah lainnya yang tersebar seolah merasakan kegelisahan yang sama. Mereka merasa bahwa tindakan frontal hanya menumbuhkan kesia-siaan. Lebih baik, kekalahan yang terjadi diisi dengan perjuangan yang bersifat ilmiah, begitu mungkin anggapan mereka. Alhasil, perjuangan keilmuan kemudian diusung.

Para imam-syeikh yang rata-rata memang alim dalam bidangnya menjadi guru para pengembara pada saat itu. Mereka (syeikh) kemudian membuat semacam asrama atau pondok sebagai tempat menginap jamaah atau pengembara ilmu. Nah, dari itulah kemudian terjadi cikal bakal berdirinya hauzah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hauzah dan Pesantren

Dua tempat kajian intelektual ini sebenarnya tidak perlu dibandingkan. Sebab, keduanya memiliki karakter masing-masing, juga focus masing-masing, serta kelebihannya masing-masing. Namun, tidak salah jika kita membandingkan sebagai pengetahuan.

Mozaik keilmuan di Indonesia akan kusam jika diskursus kepesantrenan tidak diikutkan. Sebab, sebagaimana disebutkan sebelumnya, pesantren sudah menjadi ruh dalam bingkai pendidikan Indonesia. Lulusannya pun sudah banyak dilirik oleh bermacam pihak, baik yang sifatnya personal atau institusi.

Pesantren secara sistem terbagi menjadi dua macam, yakni pesantren salaf dan pesantren modern. Simpelnya begini, pesantren salaf lebih berfokus pada kajian keagamaan saja. Sedangkan, pesantren modern sudah mengaktualisasikan kajiannya pada ranah yang lebih kompleks. Artinya, tidak melulu tentang agama, melainkan juga mengajarkan ilmu umum.

Namun, di beberapa kasus, dikotomi keilmuan justru dianggap sebagai kewajaran. Pesantren-pesantren di Indonesia masih sering memandang salah terhadap klasifikasi keilmuan, antara agama dan umum. Beberapa dari mereka, bahkan tokoh agama sekallipun, masih terlalu memegang secara fanatik ilmu agama, lalu mengacuhkan ilmu umum. Mirisnya sebagian mereka mengatakannya secara terang-terangan.

Biasanya ini terjadi pada pesantren-pesantren yang menganut sistem salaf, meski tidak semuanya. Artinya, ilmu agama menjadi sakral dan mutlak. Lalu, menganggap ilmu umum sebagai sesuatu yang tidak penting.

Tinggalkan Balasan