Hal itu tidak cuma berhenti sampai di sana. Rupanya dikotomi keilmuan yang lahir berimbas pada subjek. Pelakon keilmuan menjadi korban. Pelajar di pondok pesantren (santri) memang sudah dianggap istimewa. Namun, pelajar di sekolah umum (negeri atau swasta) dianggap tidak belajar ilmu agama dan mengikuti perintah agama.
Kabar baiknya, beberapa pesantren memang sudah membuka intensitas dialektikal secara lebih luas. Dikotomi tidak lagi tampak. Yang ada justru pesantren semakin menyesuaikan dengan zaman, berikut kebutuhannya. Namun, percaya atau tidak, beberapa pesantren tetap beranggapan bahwa ilmu umum tidak penting.

Ini yang perlu dikaji. Bisa jadi anggapan masyarakat yang menyebut santri “kolot” adalah bentuk perlawanan terhadap pengklasifikasian tersebut. Pesantren sebagai media dalam mempromosikan ilmu agama memang benar, namun modernitas di tengah kita juga merupakan keniscayaan.
Sedikit menilik pada sistem pembelajaran hauzah, ternyata ia memiliki tradisi intelektual yang memukau. Memang, sejak awal hauzah disebut sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional. Namun, semakin ke sini, ia melakukan upgrading dan langkah inovatif untuk maju.
Sebagai lembaga pendidikan agama, hauzah lantas tidak pasif pada kajian yang kaku. Inovasi terus dilakukan dengan cara membuka ruang bagi seluruh bidang keilmuan lain. Sebagaimana dijelaskan Badrut Tamam, hauzah juga memasukkan teori filsafat, tasawuf, dan pemikiran kontemporer, yang di beberapa pesantren kita masih dianggap sebagai hal tabu.
Keterbukaan dan inovasi kurikulum yang diusung oleh hauzah kemudian melahirkan beberapa pemikir-pemikir hebat. Sebut saja Murtadha Muthahhari, yang karya-karyanya sering dikaji oleh banyak akademisi. Eksistensi alumninya pun tidak kalah dengan lulusan universitas-universitas pada umumnya. Sekalipun ia disebut sebagai lembaga pendidikan agama, hauzah justru mampu melahirkan generasi yang lebih maju.
Ini yang harus dicitrakan pesantren saat ini. Membuat inovasi sebagai respons atas perubahan, baik perubahan waktu maupun keadaaan. Sehingga, meminjam kalimat Badrut Tamam, pemahaman agama tetap terkawal tanpa mengesampingkan nalar di luar logika agama. Hal itulah yang bisa dijadikan referensi dari keberadaan hauzah di Iran.
Wallahu a’lam…
