“Shollalloohu ‘Alaiiiiik….Wa alaaa alika waashaabika ajma’iiin,” terdengar lantunan tarhim sudah selesai. Para santri pun mulai bangun, mengenakan sarung, mengambil air wudhu, lalu berangkat ke mushola untuk berjamaah subuh.
“Allohu akbar allooohuakbar,” kini sudah waktunya adzan, dan Solikin semakin menyaringkan suaranya, membuat bising kuping para santri yang berat untuk bangun pagi itu.

“Hayya alal falaaaaaaaah… hayya alal falaaaaaaaah… assholaaatu wassalaaamualaaiiiiiik.”
Terdengar suara Solikin yang salah mengumandangkan adzan, lafadz assholatu khoirum minannauuum malah ia ganti assholaatu wassalaamualaik. Mungkin karena barusan ia membaca tarhim. Sontak, para santri yang masih di asrama, maupun yang sedang berjalan ke mushola, pun tertawa terpingkal meski baru saja bangun.
“Eh, Kang Sol, adzannya salah. Ha-ha-ha… !!”
Sementara itu, d imushola Solikin terdiam, entah karena malu hingga tak mau melanjutkan atau sebab ia benar-benar lupa, dan masih berusaha mengingat-ingat kesalahannya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak ada orang yang bisa ia tanyai. Sampai kemudian, dari bilik shaf jamaah putri terdengar suara Bu Nyai yang ternyata sedari sebelum subuh sudah berada di mushola untuk qiyamullail.
“Yang benar assholaatu khoirumminannauuuum. Lupa, to, Kin?”
“He-he, inggih, Bu Nyai,” jawab Solikin dengan rasa malu. Lalu ia lanjutkan adzannya yang terjeda karena lupa, “Assholaatu khoirumminannauuuum….”
Solikin pun melanjutkan adzannya sampai selesai, dan sesaat kemudian shaf di mushola sudah penuh para santri yang berjamaah subuh.
