Peristiwa penolakan perayaan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Kauman Yogyakarta belum lama ini mestinya menjadi bahan muhasabah bagi pengurus dan warga NU serta seluruh warga bangsa Indonesia. Betapa masih kuatnya prasangka berkembang di masyarakat kita. Betapa tabayyun dan silaturrahmi masih terhalang kokohnya tembok segregasi.
Sikap tasammuh, tawassuth, dan tawazzun NU yang selama ini digaungkan dan dijalankan justru dianggap dan dicurigai hanya sebagai kedok atau langkah taktik politik yang arogan dan menang-menangan. NU adalah organisasi yang serakah, mau menang sendiri. NU adalah ormas yang suka mengambil alih masjid, menggusur kelompok lain, dan suka bikin onar.

Memang banyak orang dan kelompok yang merasa tersakiti oleh gerakan NU. Banyak kelompok yang merasa terancam oleh kebangkitan NU dan tidak sedikit orang yang resah karena kebesaran NU. Sikap NU menerima saudaranya bikin acara di basis-basis mereka dianggap sebagai langkah mengambil hati, sekadar basa basi yang layak diwaspadai dan dicurigai.
