Muazin Tanpa Sarung

“Saya, Abah Kiai.”

“Orang adzan itu, walaupun tidak punya wudhu, hadast kecil, pun boleh, meskipun makruh (hukumnya). Tapi, mbok ya….”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tapi kenapa Abah Kiai?”

“Kalau adzan mbok ya sarungan. Masa sudah kopiahan, kemejan rapi, sarungnya ndak dipakai….”

Seketika Solikin meraba bagian bawahnya, dan benar saja, tak terasa ada kain sarung membungkus bagian bawa tubuhnya. Pahanya yang penuh bulu yang terasa saat ia sentuh. Berarti benar, teguran Abah Kiai.

Tanpa berkata lagi, Solikin segera berlari kembali masuk bilik dan segera mengenakan sarungnya. Ia hendak bergegas menuju mushola.

“Sol, ditarhimi dulu ya, adzan masih lima menit lagi,” timpal Abah Kiai sambil melihat jam di tangannya.

“Inggih, Abah Kiai.”

Sesampainya di mushola, ia langsung melantunkan sholawat tarhim. “Assholaatu wassalaamualaaaaiiiiik….Yaa imaamal mujaahidiiiiiin.”

Meski suaranya tak begitu enak didengar, namun Solikin begitu rajin bertugas sebagau muazin subuh di pesantren. Justru, karena suara sembernya itulah yang membuat santri mudah terbangun.

Tinggalkan Balasan