Kukira, kau jauh berbeda derajat dengan Wak Ama. Itulah sebabnya, kenapa kau dengan congkak menuduh Wak Ama bodoh hanya karena tidak dibayar. Sebaliknya, kau tidak pernah tahu bagaimana perlakuan orang tua dari anak-anak yang belajar pada Wak Ama. Aku sering melihat beberapa di antara mereka memberi satu bungkus rokok —meski tidak mahal— yang cukup untuk mengepulkan asap. Kadang pula, aku melihat setiap hari Jumat orang tua mereka memberi Wak Ama satu kilo beras lengkap dengan telur dan mi mentah.
“Kasihan Wak Ama, sudah sepatutnya kita memberi dia meski sedikit,” ucap Matkali yang anaknya juga mengaji di musala Wak Ama.

Itulah yang tidak kau tahu, makanya aku sering menyuruhmu untuk mengunjungi musala Wak Ama, agar kau belajar keikhlasan di sana. Tentu, agar kau tidak selalu marah-marah kepada istrimu setiap saat jika masakannya kurang cocok menurut lidahmu. Kau menjadi manusia yang bebal. Dan aku, tidak tahu bagaimana cara agar kepalamu yang bagai batu itu hancur, bertebaran dan tidak lagi mejadi batu. Melainkan kerikil-kerikil kecil yang mudah disingkirkan.
Semenjak kau menikah, ulahmu semakin menjadi-jadi. Dahulu, kau tidak pernah berani kasar kepada perempuan. Jauh berbeda sesudah menikah, kau seperti serigala yang hendak menerkam para perempuan —termasuk istrimu.
Jika kau mengunjungi musala Wak Ama dan belajar sedikit demi sedikit di sana, pasti keluargamu tidak akan pernah berantakan. Hari ini, istrimu sudah tidak ingin tidur satu ranjang denganmu hanya karena kelakuanmu yang tidak pernah menghargainya. Kau sering memukulinya, membenturkan kepalanya ke dinding yang keras itu. Teruslah, kau berkunjung sesering mungkin ke musala Wak Ama. Lalu, dengarkan nasihat-nasihatnya setiap habis salat berjamaah.
***
Hari ini, aku berangkat menuju kota untuk mencari pekerjaan yang layak. Di kampung sudah tidak kutemukan pekerjaan yang cocok dan banyak menghasilkan uang. Sebelum berangkat, aku tidak lupa selalu menasihatimu. Aku hanya ingin kau, yang rumahnya dekat dengan musala Wak Ama, terus-terusan berada di sana. Minimal, kau salat berjamaah lima waktu. Sebagai saudara seibu, tentu aku tetap merasa kau saudara yang utuh. Ayah kita yang tidak sama, bukan menjadi alasanku untuk tidak menasihatimu. Yang lebih penting, aku ingin kau hidup bahagia dengan istrimu yang sering kau tonjok itu.
“Mending kau berangkat saja biar tidak sering menceramahiku,” ucapmu.
