“Hari ini aku berangkat, aku hanya mau pamit.”
Kau melengos mengabaikan perkataanku. Kau sudah benar-benar gila. Kepada saudaramu sendiri kau sudah tidak punya budi pekerti. Di kota, aku tidak akan menasihatimu atau meneleponmu sekadar menanyakan kabar. Bagiku kau sudah keterlaluan dan tidak pantas untuk selalu dinasihati. Biarlah kamu urusi perkaramu dengan istrimu yang masakannya tidak pernah cocok di lidahmu. Saranku, kalau kau hanya keseringan menyakiti dia, lebih baik cerai saja. Itu lebih menggembirakan bagi istrimu daripada harus memakan hantaman tanganmu di wajahnya yang halus.

Sebelum berangkat, kuharap musala Wak Ama tetap seperti itu. Sesudah aku di kota nanti, musala Wak Ama tetap memberikan kesenangan bagi orang-orang di sana. Sungguh, aku sangat senang melihat anak-anak di sana mengantre untuk sekadar mendapat bimbingan Wak Ama. Ditambah, para orang tua yang sungguh menghargai Wak Ama. Di kota, aku sudah menemukan pekerjaan yang tepat. Kuhubungi temanku yang lima tahun lalu kami sempat merantau bersama-sama. Aku juga berjanji kepada diri sendiri, uang yang kudapat akan kusisihkan untuk Wak Ama dan musalanya.
Kuayakin, kau pasti senang dengan keberangakatnku ke kota yang jauh. Tidak ada lagi orang yang akan menasihatimu dan membela istrimu. Meski aku adalah saudaramu, bagimu aku hanya orang yang selalu memberi petuah-petuah yang bikin muak. Kau pasti ingat, saat kau berusaha memukulku hanya karena aku menyuruhmu agar memasak menggantikan istrimu yang sakit. Pada saat itu, aku berkunjung ke rumahmu dan kau tetap memaksa istrimu untuk memasak. Kau tidak pernah punya belas kasihan kepada istrimu. Sungguh, aku menyuruhmu jika kau sempat berkunjung ke pasar mengantar istrimu, kau masuk saja ke sebuah gang itu. Sekali lagi, kau harus banyak belajar dari Wak Ama di sana. Kepada orang-orang di kampung sana.
***
Aku bekerja menjadi kuli bangunan. Upah yang kuterima luamayan, tentu setara dengan lelah yang kudapat. Aku masih ingat janjiku untuk menyisihkan sebagian dan memberikannya pada Wak Ama dan amal untuk musala. Tiga bulan lagi aku pulang. Tentu, yang paling kuharap kau sudah berubah dan tidak lagi menyiksa istrimu. Uang yang kusisihkan memang tidak banyak, tetapi kuyakin cukup untuk makan Wak Ama dan istrinya selama dua minggu. Selama di kota aku memang memutuskan hubungan dengan orang-orang rumah. Aku tidak tahu banyak hal tentang apa-apa yang terjadi di rumah. Termasuk tentangmu.
Setelah aku pulang dan tiga bulan berlalu. Betapa kuterkejut, kau sudah menjadi gila. Kata tetangga, istrimu sudah mati, kau gorok lehernya dengan golok yang pendek. Kau setiap hari berada di pasar Bunagung, tetapi lebih sering berada di gang menuju musala Wak Ama. Tidak ada yang berani meleraimu. Kau sering teriak-teriak sepanjang hari. Bajumu compang-camping dan rambutmu berwarna putih sebab kau poles sendiri dengan cat tembok. Aku tidak menyangka jika kau akan menjadi seperti itu. Padahal sebelum aku berangkat, tidak ada tanda apa-apa di dalam dirimu yang menunjukkan bahwa kau akan menjadi gila.
Saat di aku kota, katanya, kau juga sering mendatangi Wak Ama. Bukan untuk belajar dari nasihat-nasihatnya, namun malah meminta agar musala Wak Ama dirobohkan. Kau menganggap bahwa tanah yang ditempati musala Wak Ama adalah tanah milik ayahmu. Memang benar, itu adalah tanah milik ayahmu, tetapi sudah dibeli orang di sekitar Wak Ama. Tanah itu bukan diwakafkan oleh ayahmu, sebagaimana tuduhanmu. Ayahmu mana mungkin mewakafkan tanah, memberi makan ibu kita saja tidak mampu. Masih lebih mending ayahku yang selalu mencukupi kebutuhan ibu. Meski, ayahku keburu pergi gara-gara terjatuh dari pohon makowa. Sesudah itu ibu menikah dengan ayahmu dan melahirkanmu.
