Pernah suatu malam,
angin membalik lembar-lembar kuning bersajak Arab.
Kau mengeja “rahmah”,
aku mencatat maknanya dalam dada.
Kita bukan hanya murid,
tapi gema dari para pecinta ilmu.
Dan langit,
ia terus mengaji bersama kita—
meski kita telah lulus,
dan tak lagi di sini.

Purwokerto, 2024.
MUSIM YANG TAK ADA DI KALENDER
Tak ada gugur daun di halaman kiai,
yang gugur di sana:
ego, angan, dan kemalasan.
Kau bawa sapu bambu,
aku bawa kitab.
Di antara suara ayam dan suara pelajaran nahu,
kita belajar mengerti dunia.
Musim ini,
musim rindu kepada yang tak tampak.
Musim menunggu keberkahan
dari lidah seorang kiai yang tak banyak bicara
tapi doanya menembus langit.

Sajak yang liriknya mengingatkan saya ketika belajar di pondok,,,