Nahu dan Perkembangan Pembelajarannya

بتا فعلت وأتت ويا افعلي # ونون أقبلن فعل ينجلي

سواهما الحرف كهل وفي ولم # فعل مضارع يلي لم كيشم

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam bait itu disebutkan jenis-jenis kalimat dari kaca mata nahu beserta tanda yang melekat padanya. Misalkan, isim yang punya tanda jar, tanwin, nida’, al, dan lain-lain. Seluruh tanda tersebut adalah tanda-tanda isim secara empirik. Bisa dilakukan uji laboratorium bahwa mata seseorang atau telinganya akan mengetahui sebuah kata adalah isim atau fi’il dari tanda-tanda yang mereka lihat atau yang mereka dengarkan.

Peristiwa empirisitas nahu ini selaras dengan pemikiran Leonard Bloomfield, seorang pakar linguistik Amerika Serikat. Bloomfield menyatakan bahwa bahasa adalah peristiwa saintifik dan kasat mata, sehingga kemampuan indera manusia punya peran sangat penting di sini.

Bahasa adalah objek kajian yang observable. Makna dari sebuah kata dapat diperoleh melalui pola stimulus-respons yang dilakukan indera secara terus menerus. Menurut  Bloomfield, bahasa hanya dapat dikaji lewat sesuatu yang kasat mata. Bahasa tidak dapat diukur melalui perasaan saja. Semua tanda isim yang dikemukakan Ibn Malik dalam Alfiyah-nya adalah entitas yang nyata, dan dapat dilihat atau didengar.

Argumen tersebut berseberangan dengan Tamam Hasan, seorang linguis modern. Menurut Hasan, kajian nahu harus berimbang antara kadar yang konkret dengan yang abstrak. Antara kontruksi yang kasat mata dengan ruh. Dalam karyanya, Al-Lughah Al-‘Arabiyah Ma’naha Wa Mabnaha, Hasan menuturkan:

Tinggalkan Balasan