Di makam gunung Lembu bersemayam para sesepuh dan pengasuh Pesantren Tremas, seperti KH Dimyathi, KH Abdurrozaq, KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, KH Hasyim Ihsan, KH Toyyib Hasan Ba’bud, KH Mahrus Hasyim, dan para kiai Tremas yang lain.
Sedangkan, di makam bukit Semanten, Pacitan, dimakamkan para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo (Wafat 1860), pendiri pertama Pesantren Tremas yang merupakan generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Ada juga makam Sayyid Hasan Ba’bud dan sesepuh lainnya.

Bila para santri berhasil mencapai target 41 hari tanpa putus, maka itu merupakan pertanda yang baik bagi mereka. Artinya, mereka benar-benar sabar dalam menghadapi tes mental kedua ini, setelah tidak tidur siang selama satu minggu.
“Lagi-lagi ini merupakan tradisi unik yang sepertinya hanya ditemukan di Pesantren Tremas,” kata Ustadz Jahrudin.
Nahun 3 Tahun 3 Bulan
Nahun, disebut juga tirakat atau lelakon, juga menjadi bagian dari tradisi unik Pesantren Tremas. Tradisi ini pertama kali dilakukan oleh santrinya KH Dimyati (Wafat 1934 M), di mana pada saat itu perkembangan Pesantren Tremas sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru Nusantara, dan bahkan ada yang datang dari negara tetangga.
Karena letak pesantren yang jauh dari kampung halaman para santri, sementara waktu itu alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah “Nahun” dalam arti yang harfiah, yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari kompleks pesantren dalam jangka waktu tiga tahun tiga bulan tiga hari.
