Ada sebuah kisah unik yang melatarbelakangi tradisi Nahun ini. Suatu ketika, Isteri KH Dimyathi yang bernama Nyai Khotijah yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan, dan 3 hari mengalami kejadian yang sangat aneh. Yaitu, saat beliau mencuci beras untuk dimasak, tiba-tiba beras tersebut berubah menjadi emas.
Nyai Khotijah pun merasa kaget, seraya berdoa, “Ya Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul Ilmi (ahli ilmu), dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu di sini menjadi santri yang barokah,” seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu, banyak santri yang melakukan tradisi Nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pesantren Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya, hingga setelah terjun di masyarakat kelak.
Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini, versi Nahun yang berlaku di kalangan santri Pesantren Tremas ada tiga. Pertama, tidak keluar dari komplek Pesantren Tremas. Kedua, tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan. Dan, ketiga, tidak pulang ke rumahnya.
“Yang berlaku umum di kalangan santri Pesantren Tremas sekarang ini adalah tradisi Nahun sesuai kategori kedua dan ketiga, dengan waktu minimal 3 tahun,” jelas Ustadz Jahrudin.
Dia menambahkan, kebanyakan mereka yang melakukan tradisi Nahun adalah santri yang berasal dari luar Jawa, namun pada perkembangannya, santri asal pulau Jawa juga banyak yang melakukan tradisi ini.
“Mereka yang melakukan Nahun berangkat dari keinginan mereka sendiri, didasari niat yang tulus untuk bersungguh-sungguh belajar dan berharap berkah dari para sesepuh Pesantren Tremas,” pungkasnya.
