Nalar Aktivisme NU dalam Merawat Tradisi Ngaji ala Pesantren

KH Said Aqiel Siradj (Kiai Said), Ketua Umum PBNU sebelumnya, telah masyhur dengan pernyataan dan gagasannya kerap kali mendapatkan perlawanan dari banyak pihak, bahkan tak jarang perlawanan itu datang dari internal NU sendiri. Keputusan Kiai Ma’ruf Amin untuk maju sebagai Wakil Presiden RI juga menerima banyak kritik. Belum lagi ide-ide Gus Dur, guru Kiai Said sekaligus Gus Yahya, ini sudah kita ketahui bersama mendobrak banyak sekali gagasan-gagasan keagamaan usang yang sering membuat banyak pihak gusar. Dahulu kala NU bentrok dengan kelompok Islamis termasuk saat memutuskan menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi di era Soeharto.

Atas semua kontroversi itu, NU kerap dituduh melenceng dari Islam, oportunis, atau tuduhan-tuduhan yang tidak mengenakkan lainnya. Namun sekali lagi, baik dahulu atau insyaallah di masa depan, langkah-langkah para kiai kita sebenarnya bisa dinalar berakar dari dua tujuan:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama, adalah nalar menjaga tradisi ngaji ala pesantren. Ini merupakan hal mendasar yang membedakan antara NU dengan organisasi Islam yang lain. Seperti namanya Nahdlatul Ulama, intisari keberkahan jam’iyyah ini terletak pada kaderisasi ulama yang secara konsisten di-lakoni oleh para Kiai dan santri-santrinya. Tradisi ngaji di mana sang guru mendedarkan secara detail makna lafaz per lafaz dalam kitab dan disimak dengan khusyuk dan khudu’ oleh santrinya itu yang berusaha dilindungi oleh NU dari masa ke masa, sampai menjelang kiamat tiba.

Jika menilik melalui kacamata ini sekiranya kita bisa paham, misalnya mengapa NU memutuskan menelurkan ide Islam Nusantara. Penggunaan diksi “Nusantara” menurut saya bukan hanya merujuk pada uapaya melestarikan keberagaman budaya bangsa kita yang begitu kaya, tetapi juga menyimpan tradisi ngaji di berbagai perkampungan di Inonesia yang begitu inklusif. Fenomena ini secara gamblang ditulis Gus Yahya dalam bukunya “Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama”:

“Di Nusantara, pendidikan adalah sebuah “praktik populis”; ia diselenggarakan sendiri oleh rakyat, yang berada di kampung-kampung. Tidak ada pendidikan yang begitu meluas seperti pesantren di Nusantara…. Di kampung-kampung Nusantara, para kiai mengajar para santri sampai ke tingkat ilmu yang tinggi.” (Hal. 23)

Tinggalkan Balasan