Nalar Aktivisme NU dalam Merawat Tradisi Ngaji ala Pesantren

Bagi pembaca yang pernah mencicipi pendidikan di pesantren salaf tentu tahu betul bahwa yang diucapkan Gus Yahya tersebut adalah kenyataan. Di pesantren-pesantren salaf NU, semua orang dari semua kelas sosial ekonomi punya kesempatan untuk menyelami ilmu-ilmu Islam yang dalam. Para kiai tidak dibayar sepeserpun untuk mengajar. Jika ada biaya yang dikeluarkan santri tidak lain merupakan biaya administrasi yang besarannya amat kecil jika dibandingkan institusi pendidikan formal. Namun meski begitu kualitas pendidikan dan lulusan pesantren tidak kalah dengan lulusan universitas formal.

Dari sini kita lalu bisa memahami mengapa terkadang NU terlihat mengambil sikap-sikap kompromi bahkan sesekali terkesan oportunis dalam berbagai hal alih-alih memperjuangkan serupa utopia negara Islam yang sempurna sebagaimana digaungkan oleh kelompok-kelompok Islamis. Kini kita bisa melihat sedikit demi sedikit buahnya dan membandingkannya dengan negara-negara Islam di Timur Tengah, misalnya. Sekarang bahkan negara kita sudah mempunyai Undang-Undang Pesantren dan lulusan pesantren pun semakin diakui kesetaraannya secara formal dengan lulusan institusi pendidikan yang lain. Berkah darimana semua ini kalau bukan dari perjuangan taktis tokoh-tokoh NU?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bayangkan saja kalau misalnya NU ikut-ikutan memberontak untuk mendirikan Daulah Islamiyyah atau nekat menolak kebijakan asas tunggal Pancasila dan melawan rezim Soeharto, masihkah pesantren-pesantren kita bisa dengan nyaman melangsungkan tradisi ngaji yang begitu mulia itu sekarang?

Kedua, setelah tradisi ngaji berhasil dilestarikan, nalar selanjutnya adalah mengisi peran-peran strategis dengan orang-orang yang bisa ngaji. Bukankah ilmu itu harus diamalkan? Dan pengamalan ilmu tentunya tidak melulu dengan menjadi kiai atau ustaz. Toh, tidak mungkin pula semua santri itu jadi kiai. Sebagian pulang meneruskan bertani, sebagian berdagang dan berbisnis, sebagian melanjutkan pendidikan formal, sebagian jadi PNS, sebagian lain berpolitik. Namun karena mereka santri, mereka akan jadi petani yang bisa ngaji sehingga tahu hukum-hukum zakat pertanian, pedagang yang tahu hukum halal-haram dalam muamalah, akademisi yang memahami konsep ketuhanan, karyawan yang amanah, dan politisi yang adil.

Kalau sudah paham hal ini, betapa mudahnya untuk tidak suuzhon lalu menuduh langkah-langkah para alim ulama kita sebagai upaya mencari keuntungan dunia semata. Niscaya jadi masuk akal betul alasan Kiai Ma’ruf Amin maju sebagai Wakil Presiden RI, karena akhirnya kita punya wakil presiden yang bisa ngaji. Maklum sekali Gus Yasin mau menyalonkan diri jadi Wakil Gubernur Jawa Tengah. Kita juga bisa mengerti alasan Gus Dur, yang lalu dilanjutkan Gus Yahya, melawat ke sana-sini menemui tokoh-tokoh dunia di forum-forum internasional, termasuk ke Israel menemui tokoh-tokoh Zionis. Karena siapa lagi yang mau menyampaikan suara santri, suara orang-orang yang ngaji, yang mendalami Islam ala Ahlussunnah wal-Jamaah dengan sanad sahih, ke hadapan dunia kalau bukan santri itu sendiri?

Tinggalkan Balasan