Secara spontan, Kiai berucap, “Baca saja ‘Bismillah Nangka Sadugel’. Baca saja kalau kamu sedang kekepet atau ada hajat apa pun, pasti dikabul sama Allah.”
Sebenarnya Kiai bermaksud bercanda karena oleh-oleh yang kebetulan dibawa Madun adalah nangka sadugel itu.

“Terima kasih, Kiai, amalannya. Saya akan amalkan ketika punya hajat,” jawab Madun dengan naba serius.
Setelah perbincangan selesai, Madun pamit dan berjalan keluar menuju kamar yang dulu dia pernah tempati bersama teman-temannya yang semasa dengannya. Setelah selesai melepas rindu, akhrnya Madun memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan, tepatnya di pinggir sungai menuju rumahnya, terjadilah banjir besar sehingga dia tidak bisa menyebarang, sementara hari sudah mulai gelap. Dia panik dan kehabisan akal, tak bisa berpikir bagaimana caranya agar dia bisa menyeberangi sungai dan segera sampai di rumah.
Lalu dalam kepanikan itu, dia ingat pada amalan yang baru saja diberikan kiainya. Dengan penuh keyakinan yang kuat kepada Allah dengan dawuh kiainya, akhirnya dia duduk bersila menengadahkan tangan sambil membaca “Bismillah Nangka Sadugel”. Mantra itu diulang-ulang sebanyak-banyaknya. Sekian lama duduk sambil membaca, akhirnya dia memberanikan diri untuk bangun dengan mata terpejam.
Sambil terus membaca amalan dari kiainya, dia berjalan menuju aliran banjir yang tak kunjung surut. Dan, subhanallah…sungguh keanehan luar biasa terjadi pada Madun. Dia bisa berjalan di atas air dan bisa sampai di rumah dengan selamat.
Akhirnya cerita itu masyhur dan Madun terkenal sebab kala itu kejadian aneh tersebut juga disaksikan banyak orang.
Selang beberapa bulan kemudian, Madun akhirnya menemukan pujaan hatinya dan berniat segera menikahinya. Akhirnya waktu dan hari pernikahannya sudah ditentukan. Namun, sebelum hari yang bahagia itu tiba, dia ingin mengundang kiainya untuk hadir memberikan doa barokah kepadanya di hari pernikahannya nanti.
Lagi, dia pergi ke pesantren bermaksud mengundang kiai dan ibu nyai untuk hadir di acara pernikahannya. Dalam pertemuan tersebut terjadilah percakapan ini:
“Ada perlu apalagi kamu, Dun?”
“Saya ke sini, yang pertama niat silaturrahim. Kedua saya berniat mengundang kiai beserta ibu nyai untuk hadir dalam acara pernikahan saya.”
“Oh ya, kapan?”
“Bulan depan, Kiai, ” Madun menyampaikan hari dan tanggalnya.
“Iya, insyallah saya bersama bu nyai akan hadir ke rumahmu kalau tidak ada udur. Oh ya, saya dengar kamu hebat bisa berjalan di atas air. Apa benar kabar itu dan apa amalan yang kau baca?”
