“Hari ini kita merasakan, kondisi di mana ada suatu penyakit yang menjadi wabah di seluruh dunia. Penyakit yang mewabah ini tidak jauh beda dengan budaya yang mewabah di seluruh dunia,” terangnya.
Kondisi demikian, menurutnya, mengajak manusia untuk kembali belajar, berpikir, dan menyikapinya dengan bijak. Karena Allah menciptakan wabah ini agar manusia dapat mengambil pelajaran baru di dalamnya.

“Tutupnya masjid, musholla, itu mengingatkan kalau Sunan Kalijaga bisa menjadi wali di tepi sungai, Syekh Abdul Qodir al-Jailani menjadi wali di tengah padang pasir, dan Sunan Geseng bisa jadi wali di tengah hutan,” dia memberi contoh.
Karenanya, ia berharap hikmah dari adanya wabah ini manusia mendapatkan pelajaran baru, tradisi yang baru agar hidup lebih bermartabat dan menghargai kemanusiaan.
Selain Gus Miftah dan Gus Muwaffiq, narasi penuh hikmah juga diungkap oleh Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdalatul Ulama di Australia dan New Zealand Prof Nadirsyah Hosen (Gus Nadir). Menurutnya, saat interaksi kita dibikin berjarak disebabkan wabah virus Corona, dengan pemberlakuan physical distancing di mana-mana, maka kemanusiaan harus tetap terjaga lewat solidaritas sosial yang kukuh
“Ini saatnya kita saling jaga, saling dukung, saling membantu. Bukan malah saling menyalahkan dan berebut pencitraan,” ajaknya.
