Narasi Penuh Hikmah di Tengah Wabah dari Doa Bersama Online

Di sisi lain, kalau mau merenunginya lanjutnya, wabah Corona justru membawa hikmah luar biasa pada lingkungan. Langit kembali biru, aliran sungai kembali jernih, karena berkurangnya polusi udara dan sampah limbah akibat pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Pantai menjadi bersih dari sampah plastik. Ikan berenang gembira karena tak lagi diganggu kapal pesiar mewah. Burung terdengar bersahutan karena jalan raya tak lagi brisik dengan suara knalpot dan klakson.

“Keluarga yang selama ini tak pernah lagi duduk makan bersama dan saat bertemu biasanya hanya uang dan kerja yang dibahas, kini lebih banyak berkumpul di rumah beribadah dan beraktivitas bersama keluarga,” katanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keadaan manusia yang dalam satu sisi sedang terkapar oleh wabah Corona, namun di sisi lain alam semesta perlahan menemukan kembali harmoninya. Maka, kemudian timbul pertanyaan, ini musibah atau anugerah? Bencana atau rencana Allah? Ini aib kemanusiaan atau sebuah proses alam ghaib untuk memanusiakan kembali kemanusiaan kita? Ini azab atau cara Tuhan mengajarkan kita adab pada semesta? Ini misteri atau solusi?

Lalu, seraya mengutip firman Allah, “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” Gus Nadir mengajak agar kita menyikapi hal ini dengan tidak lupa memanjatkan syukur kepada Allah SWT.

“Terima kasih ya Allah, Engkau turunkan wabah Corona ini. Artinya, Engkau percaya kami akan sanggup menjalani dan menghadapinya. Terima kasih atas kepercayaan Engkau ya Allah, kami pun percaya bahwa wabah Corona ini tidak akan membebani kami di luar batas kesanggupan kami. Karena itulah janjiMu,” imbuhnya.

Mengutip maqolah penyusun kitab al-Hikam, Ibnu Athoilah, Gus Nadir mengatakan bermacam ujian itu hakikatnya adalah hamparan pemberian dari Allah SWT. “Datangnya cobaan tak hanya meniscayakan kesabaran, tapi juga syukur. Karena, di balik syukur itu ada karunia yang hendak diberikan Allah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan