Aku lekas kembali setelah mendapatkan dan membayar nasi bungkus itu. Tiba-tiba saat aku mulai menstater motor, sekilas pandanganku menangkap sosok anak lelaki yang aku cari berada di lampu merah. Aku segera mengendarai motor untuk mendekatinya. Ternyata benar dugaanku. Anak yang aku cari kini sedang mengamen di lampu merah. Aku memperhatikam anak itu dari seberang jalan. Setelah aktivitasnya berhenti, aku mendekatinya.
“Kamu yang kemarin menolongku dari pencuri, ‘kan?” tanyaku basa-basi.

“Oh, iya, Om. Ada apa, Om?” Anak berkaus lusuh itu balik bertanya.
“Namamu siapa?”
“Aku Umar, Om.”
“Kamu tinggal di mana?”
Umar menunjuk jembatan besar yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
“Aku tinggal dengan Ibu dan adikku di sana, Om.”
“Boleh saya main ke sana?” Hatiku terketuk ingin sekali mengetahui lebih dalam kehidupan Umar.
“Boleh, tapi setelah aku selesai ngamen, ya, Om. Lampu sudah merah lagi. Aku ke sana dulu, Om,” pamit anak itu.
Aku mengamati Umar dari motor bututku. Anak itu tampak semangat bernyanyi demi sepeser uang dari orang-orang yang berlalu. Melihat pemandangan itu, rasa syukurku makin bertambah. Nasibku mungkin susah, tetapi masih ada yang lebih susah lagi. Tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Allah telah menebarkan rezeki ke segala penjuru buana. Kita sebagai makhluk wajib berikhtiar menjemput rezeki itu dengan cara yang baik dan halal.
***
Aku disuguhi Umar dengan pandangan yang mencengangkan. Di bawah jembatan besar ini mereka tinggal. Tidur beralaskan kardus-kardus bekas. Di sana ada seorang wanita paro baya dengan anak perempuan lebih kecil dari Umar.
