“Jadi di sini kalian tinggal, Umar?”
“Seperti yang saya bilang tadi, Om. Di sini kami tinggal. Ayahku sudah meninggal. Ibuku stroke. Jadi, aku harus bekerja dengan mengamen, sedangkan adikku di sini mengurus Ibu,” jelasnya.

Tampak ibunya Umar tersenyum sedikit. Walau badannya susah digerakkan. Namun, senyumnya masih bisa terbit. Sungguh aku iri. Selama ini aku sering mengeluhkan hidup.
“Kalian sudah makan?” tanyaku.
“Belum, Om. Tadi seharian Ibu panas, jadi aku bantuin adikku mengurus Ibu. Baru sore ini aku bisa berangkat mengamen,” balas Umar.
Cengo. Itu ekspresiku saat ini. Sepersekian detik mulut ini terbuka. Setelah sadar, aku ingat akan nasi bungkus yang tadi kubeli. Aku beranjak menuju motor. Tiga bungkus nasi aku ambil dari motor. Segera aku berikan ke Umar.
“Ini untukmu, ibu, dan adikmu, Umar.”
“Tidak usah, Om. Nanti aku beli sendiri,” tolak Umar halus.
“Sudah tak apa-apa. Uangnya kamu simpan saja untuk beli nasi besok saja. Semoga berkenan.”
“Terima kasih, Om.” Adik Umar dan Umar berucap hampir bersamaan. Sedangkan, Ibu Umar hanya menyuguhkan senyumnya kembali.
Berhubung hari hampir berganti malam, aku minta diri. Perasaan bahagia menyelusup ke dadaku, setelah menolong Umar dan keluarganya. Nyaman. Akan tetapi, bayangan istri dan anakku kembali hadir. Berhubung uang di sakunya hanya bisa untuk membeli dua bungkus nasi, jadi terpaksa aku pulang hanya membawa dua bungkus nasi. Sebab, gaji belum turun bulan ini. Satu bungkus untuk istriku dan satu lagi tanpa sambal untuk anak. Aku akan memakan sisa dari anakku yang masih balita. Tidak mungkin satu bungkus nasi habis olehnya. Tetap bersyukur.
“Alhamdulillah,” lirihku.
***
Riau, 29 Oktober 2021.
