Nasihat dari Sebuah Cerpen

Kisah ini terjadi pada saat saya aktif belajar di Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah kelas II, (sekarang kelas XI) di Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, Madura. Ada satu kejadian yang tak akan terlupakan ketika saya belajar di kelas ini.

Hal tersebut terkait dengan KH Warits Ilyas (alm), —pengasuh Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Raya,— karena pada saat itu Beliau menjadi salah satu pengajar di kelas saya. Jam pelajaran Beliau menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu, karena pada saat itu saya (khususnya) lebih dekat berinteraksi dengan almaghfur lah. Kedekatan yang dirindu oleh semua santri yang tengah belajar di Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat itu KH Warits Ilyas (alm) masuk kelas. Sebelum pelajaran dimulai, Beliau mendekat ke arah majalah dinding (mading). Di sana terpampang (yang paling nampak) sebuah cerpen dengan ilustrasi gambar laki-laki dan perempuan yang sedang bersanding. Saya deg-degan, karena yang membuat ilustrasi itu adalah saya sendiri. Dalam hati sudah bilang bahwa saya akan mendapat kemarahan yang teramat sangat. Tetapi, alhamdulillah, detik berikutnya tidak terjadi hal yang memilukan, namun sebuah nasihat yang perlu dipikirkan.

Tinggalkan Balasan