Seperti Nabi Yusuf AS yang memilih penjara daripada tunduk pada rayuan zina. Seperti Bilal bin Rabah yang tetap berkata “Ahadun Ahad” meski punggungnya dibakar batu. Mereka tidak kalah. Mereka membuktikan: ada kemenangan yang tak tercatat di grafik karier atau laporan keuangan. Kemenangan yang tertulis di Lauh Mahfuzh.
“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

Maka, jika hari ini kau merasa diancam, dihina, atau dipecat karena memilih kebenaran, ingatlah: Sejarah Islam ditulis bukan oleh para penjilat, tapi oleh mereka yang berani berkata “tidak” pada sistem yang menindas nilai-nilai Ilahi.
Langit mungkin tak menjawab dengan hujan emas. Tapi dalam kesunyian itulah janji Allah berbicara: Kebatilan akan runtuh, sekuat apa pun ia berdiri. Seperti Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah. Seperti Qarun yang ditelan bumi bersama hartanya. Mereka hancur bukan karena pedang Nabi, tapi karena sistem kezaliman mereka sendiri yang lapuk dari dalam.
Biarkan mereka menertawakan air mata kita. Biarkan mereka mengira kita kalah.
Karena di mata Allah, kekalahan kita hari ini mungkin adalah panggung untuk kemenangan abadi —Ketika kejujuran kita menjadi amal jariyah, sementara istana korupsi mereka menjadi reruntuhan sejarah.
Yang zalim boleh menang hari ini. Tapi besok, saat maut menjemput, mereka akan sadar: Tak ada sistem yang bisa menipu Yang Maha Adil.
Umar bin Khattab berkata: “Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain dengan Islam, kita akan hina.”

Tulisannya kayak mawar, indah tapi berduri heuuu