Kejahatan tak lagi butuh pedang. Ia cukup bersandar pada struktur yang membisikkan: “Ikuti arus, atau tenggelam.”
Islam mengajarkan bahwa sabar itu meninggikan derajat. Tapi di mana batasnya, saat kezaliman menjadi sistemik? Saat seorang ibu harus memilih antara membeli susu anak atau menyuap petugas agar KTP-nya cepat selesai? Saat mahasiswa harus memalsukan data penelitian karena dosennya minta “jatah”?

Kita hidup dalam lingkaran setan: Korupsi kecil di bawah dibiarkan, karena yang di atas lebih besar. Dan ketika ada yang mencoba melawan, mereka dihancurkan dengan sempurna—bukan karena salah, tapi karena mengganggu kenyamanan penguasa.
Lihatlah Imam Ahmad bin Hanbal, yang dicambuk hingga pingsan karena menolak mengakui paham sesat. Atau Sumayyah binti Khayyat, syahidah pertama dalam Islam, yang dibunuh hanya karena tak mau mencaci Rasulullah. Mereka kalah secara duniawi, tapi sejarah mencatat nama mereka sebagai pemenang abadi.
Kini, kita lebih takut pada atasan daripada murka Allah. Kita rela menggadaikan prinsip demi bonus akhir tahun. Kita menjadi generasi yang pandai berdalil “ikhlas” saat dizalimi, tapi bisu saat melihat kezaliman merajalela.
Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan. Jika tak mampu, dengan lisan. Jika tak mampu, dengan hati—dan itu selemah-lemah iman.”
Tapi hari ini, tangan kita diborgol oleh aturan yang korup. Lisan kita dibungkam oleh algoritma media sosial. Dan hati kita? Kerap dibisukan oleh rasa takut yang dilestarikan sistem.
Namun mungkin di sanalah letak ujian sejati: bahwa keimanan bukan retorika, melainkan pilihan berdarah-darah.

Tulisannya kayak mawar, indah tapi berduri heuuu